Tuesday, September 25, 2012

FAKTOR PRILAKU





Pengertian Perilaku

  • Semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoatmodjo, 2003). Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).
  • Dari sudut biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Sunaryo.2004).
  • Di kutip dari Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi organisme terhadap lingkungannya. Dan dari Notoatmodjo, perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu (Sunaryo.2004).



Macam – macam Perilaku

Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua:



  • (1). Perilaku tertutup (covert behavior)
  • Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.



  • (2). Perilaku terbuka (overt behavior)
  • Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain (Notoatmodjo, 2003).



Domain Perilaku

  • Menurut (Notoatmodjo, 2003), meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respons sangat tergantung pada karekteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respon tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku.



Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seseorang

Menurut (Sunaryo.2004), perilaku dipengaruhi oleh faktor endogen dan faktor eksternal, yaitu:



Faktor genetik atau faktor endogen

  • Faktor genetik atau keturunan merupakan konsepsi dasar atau modal untuk kelanjutan perkembangan perilaku makhluk hidup itu. Faktor genetik berasal dari dalam diri individu (endogen), antara lain:
  • Jenis ras, setiap ras di dunia memiliki perilaku yang spesifik, saling berbeda satu dengan lainnya.
  • Jenis kelamin, perbedaan perilaku pria dan wanita dapat dilihat dari cara berpakaian dan melakukan pekerjaan sehari-hari. Perilaku pada pria disebut maskulin, sedangkan perilaku wanita disebut feminin.
  • Sifat fisik, misalkan perilaku pada individu yang pendek dan gemuk berbeda dengan individu yang memiliki fisik tinggi kurus.
  • Sifat kepribadian, perilaku individu tidak ada yang sama karena adanya perbedaan kepribadian yang dimiliki individu, yang dipengaruhi oleh aspek kehidupan seperti pengalaman,usia watak, tabiat, sistem norma, nilai dan kepercayaan yang dianutnya.
  • Bakat pembawaan, bakat merupakan interaksi dari faktor genetik dan lingkungan serta bergantung pada adanya kesempatan untuk pengembangan.
  • Inteligensi, Ebbinghaus mendefinisikan inteligensi adalah kemampuan untuk membuat kombinasi. Dari batasan tersebut dapat dikatakan bahwa inteligensi sangat berpengaruh terhadap perilaku individu.



Faktor eksogen atau faktor dari luar individu

  • Faktor lingkungan. Lingkungan disini menyangkut segala sesuatu yang ada disekitar individu, baik fisik, biologis maupun sosial. Ternyata lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku individu karena lingkungan merupakan lahan untuk perkembangan perilaku.
  • Pendidikan. Proses dan kegiatan pendidikan pada dasarnya melibatkan masalah perilaku individu maupun kelompok.
  • Agama. Agama sebagai suatu keyakinan hidup yang masuk ke dalam konstruksi kepribadian seseorang sangat berpengaruh dalam cara berpikir, bersikap, beraksi, dan berperilaku individu.
  • Sosial ekonomi, telah disinggung sebelumnya bahwa salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang adalah lingkungan sosial.



  • Kebudayaan. Ternyata hasil kebudayaan manusia akan mempengaruhi perilaku manusia itu sendiri.

  • Faktor-faktor lain: Susunan saraf pusat, Persepsi, Emosi



Proses Adopsi Perilaku

  • Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan.



Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

  • Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
  • Interest (tertarik), yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
  • Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
  • Trial (mencoba), orang telah mulai mencoba perilaku baru.
  • Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.



  • Apabila penerimaan perilaku atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2003).



DAFTAR PUSTAKA



  1. Arikunto S, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta
  2. Depkes RI. 2005. Manajemen Laktasi. Jakarta
  3. Moody, Jane, dkk. 2006. Menyusui Cara Mudah, Praktis, & Nyaman. Jakarta: Arcan
  4. Nadhiroh, Siti R. 2008. Menanti Perda ASI Eksklusif. Surabaya: FKM-UNAIR
  5. Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia
  6. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
  7. Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
  8. Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
  9. Prasetyono, DS. 2009. Buku Pintar ASI Eksklusif. Jogjakarta: DIVA Press
  10. Poerwodarminto. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Alfabeta
  11. Purwanti, Sri. 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif. Jakarta: EGC
  12. Roesli, U. 2008. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif. Jakarta: Pustaka Bunda
  13. Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Kesehatan. Bandung: Alfabeta
  14. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta
  15. Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Perawatan. Jakarta: EGC
  16. Sulistyawati, Ari. 2009. Buku ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta: Penerbit Andi
  17. Suradi R, dkk. 2003. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta: Perkumpulan Perinatalogi Indonesia
  18. Zulfajri, EM. 2001. Kamus Bahasa Indonesia Difa Publizer. Jakarta
  19. Wikipedia bahasa Indonesia. http://id.wikipedia.org. diakses tanggal 13-04-2010, written by Henny Zainal, dr . http://www.petitiononline.com. created by Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). diakses tanggal 03-05-2010
  20. . 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
  21. . 2008. Bedah ASI Kajian dari Berbagai Sudut Pandangan Ilmiah. Jakarta: IDAI

Wednesday, September 19, 2012

Makanan Penurun Kolesterol

 


Kolesterol adalah lemak berwarna kekuningan berbentuk seperti lilin yang diproduksi oleh tubuh manusia. Bila dilihat dari ilmu kimia, kolesterol merupakan senyawa lemak kompleks yang dihasilkan tubuh dengan bermacam-macam fungsi. Jadi bila takarannya pas, maka kolesterol adalah lemak yang mempunyai peran penting bagi tubuh. Namun bila jumlahnya berlebihan, kolesterol dalam darah justru akan berbahaya bagi tubuh. Merubah gaya hidup menjadi gaya hidup yang lebih sehat adalah salah satu cara untuk tetap menjaga kadar kolesterol supaya tidak terlalu tinggi. Selain itu, beberapa jenis makann dipercaya bisa berfungsi sebagai makanan penurun kolesterol. Berikut ini adalah beberapa contoh makanan penurun kolesterol:
# JAGUNG
Jagung mempunyai efek menetralisir hati dan melancarkan pengeluaran empedu (kalogaga) sehingga dapat emnurunkan kolesterol.
Cara pemakaian: rebus 50 - 150 gr, lalu minum airnya
# JAMBU BIJI
Kandungan pektin pada jambu biji dapat membantu menurunkan kolesterol tinggi dengan cara mengikat kolesterol dan membantu pengeluarannya. Kandungan tanin dalam jambu biji membuat selaput lendir usus tidak mudah menyerap lemak dari makanan
Cara pemakaian: rebus 15 - 30 gr daun jambu biji segar, lalu minum airnya. Makan atau blender buahnya dan minum
# JAMUR HIOKO
Rasa jamur hioko adalah manis dan sejuk/dingin. Jamur ini berkhasiat meningkatkan energi vital dan memperkuat kerja limfa sehingga bisa menurunkan kolesterol dan darah tinggi.
Cara pemakaian: 10 - 30 gr jamur hioko kering direbus, kemudian minum airnya dan makan jamurnya
# JAMUR KUPING HITAM
Jamur jenis ini berkhasiat menurunkan kadar lemak darah, meningkatkan sirkulasi darah, menguatkan , menghentikan pendarahan, serta menyejukkan dan actifator darah. Kandungan polisakarida yang terdapat pada jamur kuping mempunyai efek menurunkan kolesterol jahat sehingga mencegah terjadinya plak pada pembuluh darah yang merupakan penyebab arteriosklerosis
Cara pemakaian: rebus 10 - 30 gr jamur kuping hitam kering, minum airnya. Atau bisa juga dijadikan sebagai campuran bahan makanan
# DAUN JATI BELANDA
Rasa dari daun jati belanda ini agak kelat, bau aromatik lemah. Kandungan tanin pada daun jati belanda dapat mengerutkan selaput lendir usus sehingga mengurangi penyerapan lemak dari makanan.
Cara pemakaian: rebus 15 - 30 gr daun jati belanda, lalu minum airnya

Berapakah Kadar Kolesterol Normal

 



Kita bisa dengan mudah menjumpai banyak artikel yang membahas mengenai kolesterol, LDL, HDL, dll namun tidak banyak yang memberi penjelasan berapakah kadar kolesterol normal. Kadar kolesterol di dalam tubuh kita sangat dipengaruhi oleh jumlah LDL serta HDL kita. Bila kadar LDL dalam darah idelanya <160 mg/dl dan kadar ideal HDL dalam darah >35 mg/dl, maka berapakah kadar kolesterol normal? maka jawabannya adalah: total kolesterol normal dalam darah adalah antara 160 - 200 mg/dl
Kadar kolesterol dalam tubuh seseorang terkadang bisa meninggi jika menu yang dikonsumsi merupakan menu dengan kandungan lemak yang tinggi, produksi kolesterol dalam tubuh meningkat (yang disebabkan oleh faktor keturunan), atau bisa juga disebabkan oleh pembuangan kolesterol ke usus yang berkurang. Kadar kolesterol dalam tubuh biasany berfluktuasi dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan oleh faktro keturunan, umur, jenis kelamin, hormon seks, serta faktor lingkungan.
Untuk menjaga supaya kadar kolesterol dalam darah kita tetap ideal, sebaiknya kita hanya mengkonsumsi lemak jenuh sebesar 10% saja daris eluruh kebutuhan kalori tubuh dalam sehari. Sedangkan komposisi dari lemak jenuh boleh sedikit lebih banyak. Lemak tak jenuh bisa kita dapat dari daging merah, jerohan, gajih, serta susu.
Minyak ikan dipercaya bisa menurunkan kolesterol. Mengapa demikian? karena kandungan Omega-3 dalam minyak ikan tergolong asam lemak tak jenuh majemuk. Omega-3 pada minyak ikan mengandung asam lemak EPA (Eicosapentaenoic acid) dan DHA (Docosa Hexaenoic Acid) yang menyimpan sejumlah khasiat. Selain mengkonsumsi minyak ikan, supaya kadar kolesterol di dalam tubuh kita tidak tinggi kita juga harus menempuh beberapa cara berikut: menjaga berat badan supaya tidak obesitas, membatasi makanan berlemak, serta memperbanyak makan buah serta sayur mayur.

ASKEP KLIEN HIPERTIROIDISME

ASKEP KLIEN HIPERTIROIDISME


ASKEP KLIEN HIPERTIROIDISME

KONSEP DASAR
A. Definisi
Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) merupakan suatu keadaan di mana didapatkan kelebihan hormon tiroid karena ini berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan.
Hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari produksi tiroid, yang merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan.
Hipertiroidisme (Hyperthyrodism) adalah keadaan disebabkan oleh kelenjar tiroid bekerja secara berlebihan sehingga menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan di dalam darah.
Krisis tiroid merupakan suatu keadaan klinis hipertiroidisme yang paling berat mengancam jiwa, umumnya keadaan ini timbul pada pasien dengan dasar penyakit Graves atau Struma multinodular toksik, dan berhubungan dengan faktor pencetus: infeksi, operasi, trauma, zat kontras beriodium, hipoglikemia, partus, stress emosi, penghentian obat anti tiroid, ketoasidosis diabetikum, tromboemboli paru, penyakit serebrovaskular/strok, palpasi tiroid terlalu kuat.

1. Apakah itu tiroid ?
Kelenjar Tiroid adalah sejenis kelenjar endokrin yang terletak di bagian bawah
depan leher yang memproduksi hormon tiroid dan hormon calcitonin.








B. Penyebab
Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan disertai penurunan TSH dan TRF karena umpan balik negatif HT terhadap pelepasan keduanya.
Hipertiroidisme akibat rnalfungsi hipofisis memberikan gambaran kadar HT dan TSH yang finggi. TRF akan rendah karena umpan balik negatif dari HT dan TSH. Hipertiroidisme akibat malfungsi hipotalamus akan memperlihatkan HT yang finggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan.



1. Penyebab Utama
a. Penyakit Grave
Penyakit Graves adalah suatu gangguan autoimun di mana terdapat suatu defek genetik dalam limfosit Ts dan sel Th merangsang sel B untuk sintesis antibody terhadap antigen tiroid (Dorland, 2005).
b. Toxic multinodular goitre
c. ’’Solitary toxic adenoma’’
2. Penyebab Lain
a. Tiroiditis
b. Penyakit troboblastis
c. Ambilan hormone tiroid secara berlebihan
d. Pemakaian yodium yang berlebihan
e. Kanker pituitari

C. Gejala-gejala
1. Peningkatan frekuensi denyut jantung
2. Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap katekolamin
Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentukan panas, intoleran terhadap panas, keringat berlebihan
4. Penurunan berat, peningkatan rasa lapar (nafsu makan baik)
5. Peningkatan frekuensi buang air besar
6. Gondok (biasanya), yaitu peningkatan ukuran kelenjar tiroid
7. Gangguan reproduksi
8. Tidak tahan panas
9. Cepat letih
10. Tanda bruit
11. Haid sedikit dan tidak tetap
12. Pembesaran kelenjar tiroid
13. Mata melotot (exoptalmus


      
D. Diagnosa
Diagnosa bergantung kepada beberapa hormon berikut ini :
Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar tiroid.
1. TSH(Tiroid Stimulating Hormone)
2. Bebas T4 (tiroksin)
3. Bebas T3 (triiodotironin)
4. Diagnosa juga boleh dibuat menggunakan ultrabunyi untuk memastikan membesaran kelenjar tiroid
5. Tiroid scan untuk melihat pembesaran kelenjar tiroid
6. Hipertiroidisme dapat disertai penurunan kadar lemak serum
7. Penurunan kepekaan terhadap insulin, yang dapat menyebabkan hiperglikemia

E. Komplikasi
Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah krisis tirotoksik (thyroid storm). Hal ini dapat berkembang secara spontan pada pasien hipertiroid yang menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi pada pasien hipertiroid yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah pelepasan HT dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor, hipertermia (sampai 106 oF), dan, apabila tidak diobati, kematian.
Penyakit jantung Hipertiroid, oftalmopati Graves, dermopati Graves, infeksi
karena agranulositosis pada pengobatan dengan obat antitiroid.
Krisis tiroid: mortalitas.

G. Penatalaksanaan
1. Konservatif
Tata laksana penyakit Graves
a. Obat Anti-Tiroid. Obat ini menghambat produksi hormon tiroid. Jika dosis
berlebih, pasien mengalami gejala hipotiroidisme.Contoh obat adalah sebagai
berikut :
1)        Thioamide
2) Methimazole dosis awal 20 -30 mg/hari
3) Propylthiouracil (PTU) dosis awal 300 – 600 mg/hari, dosis maksimal
     2.000 mg/hari
4) Potassium Iodide
5) Sodium Ipodate
6) Anion Inhibitor
b. Beta-adrenergic reseptor antagonist. Obat ini adalah untuk mengurangi gejalagejala hipotiroidisme. Contoh: Propanolol

    Indikasi :
a. Mendapat remisi yang menetap atau memperpanjang remisi pada pasien muda dengan struma ringan –sedang dan tiroktosikosis
b. Untuk mengendalikan tiroktosikosis pada fase sebelum pengobatan atau
sesudah pengobatan yodium radioaktif
c. Persiapan tiroidektomi
d. Pasien hamil, usia lanjut
2. Surgical
a. Radioaktif iodine.
Tindakan ini adalah untuk memusnahkan kelenjar tiroid yang hiperaktif
b. Tiroidektomi.
Tindakan Pembedahan ini untuk mengangkat kelenjar tiroid yang membesar



ASUHAN KEPERAWATAN

Konsep asuhan keperawatan pada klien hipertiroidisme merujuk pada konsep yang dikutip dari Doenges (2000), seperti dibawah ini :
A. Pengkajian
1. Aktivitas atau istirahat
a. Gejala : Imsomnia, sensitivitas meningkat, Otot lemah, gangguan
    koordinasi, Kelelahan berat
b. Tanda : Atrofi otot
2. Sirkulasi
a. Gejala : Palpitasi, nyeri dada (angina)
b. Tanda : Distritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, Peningkatan  tekanan darah dengan tekanan nada yang berat. Takikardia saat istirahat.
Sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis)


3. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih ( poliuria, nocturia), Rasa nyeri / terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), Infeksi saluran kemih berulang, nyeri tekan abdomen, Diare, Urine encer, pucat, kuning, poliuria ( dapat berkembang menjadi oliguria atau anuria jika terjadi hipovolemia berat), urine berkabut, bau busuk (infeksi), Bising usus lemah dan menurun, hiperaktif ( diare )

4. Integritas / Ego
a. Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, Masalah finansial yang
berhubungan dengan kondisi.
b. Tanda : Ansietas peka rangsang
5. Makanan / Cairan
a. Gejala : Hilang nafsu makan, Mual atau muntah. Tidak mengikuti diet :
peningkatan masukan glukosa atau karbohidrat, penurunan berat badan lebih
dari periode beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik ( tiazid )
b. Tanda : Kulit kering atau bersisik, muntah, Pembesaran thyroid ( peningkatan  kebutuhan metabolisme dengan pengingkatan gula darah ), bau halitosis atau manis, bau buah ( napas aseton)
6. Neurosensori
a. Gejala : Pusing atau pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada
otot parasetia, gangguan penglihatan
b. Tanda : Disorientasi, megantuk, lethargi, stupor atau koma ( tahap lanjut),
angguan memori ( baru masa lalu ) kacau mental. Refleks tendon dalam
(RTD menurun; koma). Aktivitas kejang
7. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang atau nyeri (sedang / berat), Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati.
8. Pernapasan
a. Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum purulen
(tergantung adanya infeksi atau tidak)
b. Tanda : sesak napas, batuk dengan atau tanpa sputum purulen (infeksi),
frekuensi pernapasan meningkat
9. Keamanan
a. Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
b. Tanda : Demam, diaforesis, kulit rusak, lesi atau ulserasi, menurunnya
kekuatan umum / rentang gerak, parastesia atau paralysis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam )
10. Seksualitas
a. Gejala : Rabas wanita ( cenderung infeksi ), masalah impotent pada pria ;
kesulitan orgasme pada wanita
b. Tanda : Glukosa darah : meningkat 100-200 mg/ dl atau lebih.
Aseton plasma: positif secara mencolok. Asam lemak bebas : kadar lipid dengan kolosterol meningkat







B. Diagnosa Keperawatan:
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien yang mengalami hipertiroidisme adalah sebagai berikut :
1. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
2. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan
energi
3. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan)
4. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan mekanisme perlindungan dari mata ; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus.
5. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik.
6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
7. Risiko tinggi perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologik,
peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktifitas mental, perubahan pola tidur

C. Perencanaan / Intervensi.
1. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid  tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
Tujuan :Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan kriteria : 1) Nadi perifer dapat teraba normal. 2) Vital sign dalam batas normal. 3) Pengisian kapiler normal 4) Status mental baik 5) Tidak ada disritmia
Intervensi :
a. Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika memungkinkan. Perhatikan besarnya tekanan nadi
Rasional : Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat dari vasodilatasi perifer yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi
b. Periksa kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan
pasien.
Rasional : Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh
otot jantung atau iskemia
c. Auskultasi suara nafas. Perhatikan adanya suara yang tidak normal
d. Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah, penurunan produksi urine dan hipotensi
Rasional : Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan
volume sirkulasi dan menurunkan curah jantung
e. Catat masukan dan haluaran
Rasional : Kehilangan cairan yang terlalu banyak dapat menimbulkan
dehidrasi berat

2. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan
energi

HUBUNGAN GAYA HIDUP TERHADAP PENINGKATAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA

 




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berumur 60 tahun atau lebih menurut UU No 13 tahun 1998. Pada tahap ini biasanya individu tersebut sudah mengalami kemunduran fugsi fisiologis organ tubuhnya. Usia yang di kategorikan lansia menurut WHO adalah usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) 75-90 tahun dan usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun (mubarak, 2010).
Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley, 2006). Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan, sosial, ekonomi dan psikologis (Depkes, 2008).
Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada masa usia lanjut adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan terjadinya peningkatan secara abnormal dan terus menerus tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa faktor yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan darah secara normal (Levine & Fodor, 2003). Hipertensi pada usia lanjut sebagian besar merupakan hipertensi sistolik terisolasi (HST) (Kuswardhani, 2006). Hipertensi sistolik terisolasi adalah hipertensi yang terjadi ketika tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg namun tekanan diastolik dalam batas normal (Wahid, 2008).

Data WHO tahun 2000 penduduk usia lanjut diseluruh dunia diperkirakan sebanyak 426 juta atau sekitar 6,8%. Proyeksi penduduk oleh biro pusat statistik mengambarkan bahwa 2005-2010 jumlah penduduk usia lanjut sekitar 19 juta jiwa atau 8,5% dari seluruh jumlah penduduk. WHO memperkirakan bahwa tahun 2025, Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah warga lansia sebesar 14,4%, yang merupakan sebuah peningkatan yang tertinggidi dunia ( notoatmdjo, 2007).
Umur Harapan Hidup (UHH, proporsi penduduk Indonesia umur 55 tahun ke atas pada tahun 1980 sebesar 7,7% dari seluruh populasi, pada tahun 2000 meningkat menjadi 9,37% dan diperkirakan tahun 2010 proporsi tersebut akan meningkat menjadi 12%, serta UHH meningkat menjadi 65-70 tahun. Dalam hal ini secara demografi struktur umur penduduk Indonesia bergerak ke arah struktur penduduk yang semakin menua (ageing population). Peningkatan UHH akan menambah jumlah lanjut usia yang akan berdampak pada pergeseran pola penyakit di masyarakat dari penyakit infeksi ke penyakit degenerasi. Prevalensi penyakit menular mengalami penurunan, sedangkan penyakit tidak menular cenderung mengalami peningkatan. Penyakit tidak menular dapat digolongkan menjadi satu kelompok utama dengan faktor risiko yang sama seperti kardiovaskuler, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronik, dan kanker. (https://s2.mywibes.com/KTI_Aulia_Dwi_Natalia.docx )
Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya. Dari hasil studi tentang kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lanjut usia yang dilaksanakan Komnas Lansia di 10 propinsi tahun 2006, diketahui bahwa hipertensi menduduki peringkat kedua penyakit terbanyak yang diderita lansia setelah penyakit sendi (Depkes, 2008).
Hasil survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) angka kesakitan sebesar 9,2% pada usia lebih dari 60 tahun dengan Faktor risiko hipertensi antara lain di karenakan terlalu sering mengkonsumsi garam, ,kurang olah raga,dan kurang beraktifitas (SKRT,2005).
Berdasarkan data yang didapat dari dinas kesehatan kota jambi jumlah lansia penderita hipertensi tahun 2009 sebanyak 13.668 jiwa, tahun 2010 di dapatkan 15.476 jiwa penderita namun pada tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebanyak 16.912 jiwa (Data Dinkes Kota, 2012 ).
Berdasarkan data yang didapat dipuskesmas rawasari pada bulan Maret 2012, hipertensi menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbesar, Sejak tahun 2009 penderita hipertensi pada lansia yang berobat berjumlah 1,607 penderita. Tahun 2010 di dapatkan 1,648 Dan Pada tahun 2011 mengalami peningkatan, penderita hipertensi pada lansia yang berobat berjumlah 2,118 penderita, tetapi pada awal 2012 penderita hipertensi yang berkunjung mengalami peningkatan. (Laporan bulanan pkm Rawa Sari kota jambi Tahun 2011).
Hipertensi seringkali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer), pembunuh diam-diam, tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi penderitanya. Kalaupun muncul, gejala tersebut seringkali dianggap gangguan biasa, sehingga korbannya terlambat menyadari akan datangnya penyakit dan menyepelekannya. (shanty, 2011).
Alasan mengapa seseorang seseorang dapat mengalami peningkatan tekanan darah yang bahkan jauh dari normal. Hal tersebut sering diebut dengan faktor resiko, seperti faktor jenis kelamin, usia, dan genetik adalah yang tidak dapat diganti atau dikontrol . Sedangkan faktor yang dapat diganti atau dikontrol adalah gaya hidup sehat yang meliputi pola makan sehat, kebiasaan-kebiasaan merokok, minum alkohol, tidak mau olahraga, kelebihan berat badan dan stress. Ini berarti penderita hipertensi mau tidak mau harus meninggalkan gaya hidupnya yang lama dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup yang baru menjaga agar tekanan darahnya tetap normal ( hanata, 2011 ).
Untuk mengendalikan dan mencegah hipertensi, selain pola makan sehat juga harus melakuan gaya hidup sehat, ini sangat penting karna gaya hidup sehat akan membuat kita sehat keseluruhan dengan, melakukan olahraga teratur, berhenti merokok juga berperan untuk mengurangi hipertensi, dan mengendalikan pola kesehatan secara keseluruhan, termasuk mengendalikan kadar kolestrol, diabetes, berat badan dan pemicu penyakit lainnya (susilo, 2011).
Gaya hidup masa kini menyebabkan stres berkepanjangan. Kondisi ini memicu berbagai penyakit seperti penyakit kepala, sulit tidur, maag, jantung dan hipertensi. Saat seseorang merasa tertekan, tubuhnya tubuhnya melepaskan adrenalin dan kortison, sehingga menyebabkan tekanan darahnya meningkat. Tubuh menjadi lebih siaga menghadapi bahaya. Bila kondisi ini berlarut-larut, tekanan darahnya akan tetap tinggi. Gaya hidup modern cendrung membuat berkurangnya aktivitas fisik (olahraga), konsumsi alkohol tinggi, minum kopi dan merokok. Semua prilku tersebut merupakan pemicu tekanan darah tinggi ( Sutomo, 2009).
Perubahan gaya hidup yang bisa dilakukan adalah mengatur pola makan, olahraga secara teratur, dan menghindari konsumsi alkohol atau rokok. Adapun beberapa jenis diet, yakni diet rendah garam, diet rendah kolestrol dan lemak terbatas, diet tinggi serat, dan diet kalori. Diet yang diterapakan bisa disesuikan dengan kondisi hipertensi. Dengan mengatur makanan yang tepat, tekanan darah bisa turun dengan lebih cepat (sutomo, 2009).
Tekanan darah juga di pengaruhi oleh aktifitas fisik, gaya hidup yang tidak aktif(kurang gerak) bisa memicu terjadinya hipertensi bagi orang-orang memiliki kepekaan yang di turunkan. kurang aktivitas berpengaruh terhadap kerja detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuatan yang mendesak arteri (Rohaendi, 2008)
Berdasarkan hasil survey awal yang peneliti lakukan di Puskesmas Rawa Sari Jambi terhadap 10 orang Lansia Penderita Hipertensi, diperoleh data 7 dari 10 klien yang dijadikan sampel tidak bahwa terdapat faktor yang dapat menyebabkan kejadian hipertensi pada lansia di antaranya faktor gaya hidup yang tidak teratur, tidak patuh mengatur pola makan, responden mengatakan tidak bisa membatasi makanan yang terlalu banyak mengandung garam disebabkan karena klien merasa makanan hambar jika tidak diberi garam, dan responden masih mengkonsumsi daging dalam jumlah besar. Pada aktifitas juga 8 dari 10 klien tersebut tidak tahu bahwa aktivitas tertentu (olahraga) mampu menurunkan tekanan darah, jadi klien hanya dirumah, takut melakukan hal-hal agak berat.\

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya “Apakah Ada Hubungan Gaya Hidup Terhadap Peningkatan Tekanan Darah Pada Lansia Penderita Hipertensi Di Poliklinik Umum Puskesmas Rawasari Kota Jambi Tahun 2012”



C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan gaya hidup terhadap Peningkatan Tekanan Darah pada Lansia Penderita Hipertensi Di Poliklonik Umum Puskesmas Rawa Sari Jambi Tahun 2012.
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya gambaran gaya hidup terhadap peningkatan darah pada lansia penderita hipertensi yang berobat di Poliklinik Umum Puskesmas Rawa Sari Jambi Tahun 2012.
b. Diketahuinya hubungan gaya hidup terhadap peningkatan tekanan darah penderita hipertensi yang berobat di Poliklinik Umum Puskesmas Rawa Sari Jambi Tahun 2012.
D. Manfaat penelitian
1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi
Sebagai bahan informasi dan masukan bagi pengambil kebijakan dalam rangka meningkatkan upaya-upaya pencegahan terhadap penderita hipertensi berdasarkan pertimbagan, perencanaan, pelaksanaan, pengembangan dan evaluasi.
2. Bagi Puskesmas Rawa Sari
Di harapkan menambah informasi dan masukan bagi petugas kesehatan khususnya di puskesmas Rawa Sari kota jambi agar dapat meningkatkan upaya pemulihan bagi penderita hipertensi.
3. Bagi institusi pendidikan
Untuk menambah referensi perpustakaan dan wawasan mahasiswa telanai bhakti kesehatan jambi jurusan keperawatan tentang hubungan gaya hidup terhadap peningkatan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi.
E. Ruang lingkup

Penelitian ini merupakan penelitian Analitik Kuantitatif dengan desain Cross Sectional untuk mengetahui hubungan gaya hidup terhadap peningkatan tekanan darah pada lansi penderita hipertensi di poli klinik umum Puskesmas Rawa Sari Kota Jambi Tahun 2012. Pengolahan data dengan menggunakan program komputerisasi. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan tehnik Accidental sampling (dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks penelitian). Penelitian ini akan dilakukan pada tahun 2012 yang bertempat di Poli Klinik Puskesmas Rawa Sari Kota Jambi.



BAB II
TINJAUN PUSTAKA
A. konsep Lansia
1. Pengertian
Lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial (UU No23 Tahun 1992 tentang kesehata).Pengertian dan pengelolaan lansia menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun1998 tentang lansia sebagai berikut :
a. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas.
b. Lansia usia potensial adalah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
c. Lansia tak potensial adalah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya tergantung pada bantuan orang lain.

2. Batasan Lansia
Menurut Maryam tahun 2009, batasan lanjut usia meliputi:
a. Pra Usia Lanjut (presenilis)
Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
b. Usia lanjut
Seorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Usia lanjut adalah tahap perkembangan masa tua dalam perkembangan individu (usia 60 tahun keatas). Sedangkan lanjut usia adalah sudah berumur atau tua.
c. Usia Lanjut Resiko Tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.

d. Usia Lanjut Potensial
Usia lanjur yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa.
e. Usia Lanjut Tidak Potensial
Usia lanjut yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain ( maryam, 2010 ).

3. Proses Menua
Aging process atau proses menua merupakan suatu proses biologis yang tidak dapat dihindarkan, yang akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah suatu proses menghilangnya sacara perlahan-lahan kemampuan jarinagan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan struktur dan fungsi secra normal, kethanan terhadap injury termasuk adanya infeksi (constantinedes, 1994). Proses penuaan sudah mulai berlangsung sejak seorang mencapai dewasa,misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh 'mati' sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batasan yang tegas, pada usia berapa kondisi kesehatan seseorang memulai menurun. Setiap orang memiliki fungsi fisiologis alat tubuh yang sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak fungsi tersebut maupun saat menurunnya. Umumnya fungsi pisiologis tubuh hal. Pencapai puncakna pada usia 20-30 tahun. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai bertambahnya usia (mubarak, 2009 ).



4. Teori penuaan
a. Teori Biologis
pada tahun 1993, Mary Ann Christ et al. (lihat Hardywinoto dan Toni Setiabudi, 1999) menyatakan bahwa penuaan merupaaln proses berangsur-angsur yang mengakibatkan perubahan yang kumulatif dan mengakibatkan perubahan yang berakhir dengan kematian. Penuaan juga menyangkut perubahan struktur sel, akibat interaksi sel dengan Iingkungannya, yang pada akhirnya menimbulkan perubahan generatif. Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsik dan ekstrinsik. Intrinsik berarti perubahan ynng timbul akibat penyebab di dalam sel sendiri, sedang teori ekstrinsik menjelasktrn bahwa perubahan yang terjadi diakibatkan pengaruh lingkungan, Penuaan menurut teori biologis di antaranya adalah sebagai berikut.(mubarak, 2009)
1) Teori Genetik Clock
Meurut teori ini menua telah terpogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Tiap spesies di dalam inti selnya mempunyai suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. lingkungan atau penyakit. Secara teoretis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi meski hanya beberapa waktu dengan pengaruh-pengaruh dari luar, berupa Peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obatan, atau dengan tindakan tertentu.
2) Teori Mutiisi Somatik (Error Catastrophe Theory)
Menurut teori ini penuaan disebabkan oleh kesalahan yang beruntun dalam jangka waktu lama melalui trankripsi dan translasi. Kesalahan tersebut menyebabkan terbentuknya enzim yang salah dan berakibat pada metabolisme yang salah, sehingga mengurangi fungsional sel. Meskipun dalam batas-batas tertentu, kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan memperbaiki diri terbatas pada transkripsi, yang tentu akan menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim, sehingga menimbulkan metabolit berbahaya. Sernakin banyak kesiilahan pada translasi, maka kesalahan yang terjadi juga akan semakin banyak.
3) Teori Autoimun ( Auto Immune theory)
Menurut teori ini proses metaboiisme tubuh suatu saat akan memproduksi zat khusus. Ada jaringan tubuh terterrtu yang tidak tahan terhadap suatu zat, sehingga jaringan tubuh rnerjadi lemah dan sakit (Godteris & Brocklehurst, 1989).
4) Teori Radikal Bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas. Tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) yang masuk ke dalam tubuh akan mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik, seperti karbohidrat dan protein.
5) Pemakaian dan Rusak
Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh rusak.
6) Teori virus yang Perlahan-lahan Menyerang sistem kekebalan Tubuh (immunology slow Virus Theory)
Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat dari sistem imun yang kurang efektif seiring dengan bertambahnya usia
7) Teori Stres
Menurut teori ini penuaan terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertirhankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha, dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.

8) Teori Rantai Silang
Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat adanya rearksi kimia sel-sel yang tua atau yang telah usang menghasilkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan jarigan menjadi kurangnya elastis, kaku, dan hilangnya fungsi.
9) Teori Program
Menurut teori ini penuaan terjadi karena kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati ( mubarak, 2009 ).

b. Teori Kejiwaan Sosial
Berikut ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung teori kejiwaan sosial.
1) Aktivitas atau kegiatan (Activity Theory)
a) Teori aktivitas, menurut Hiivighusrst dan Albrecht (1953) barpendapat bahwa sangat penting bagi lansia untuk tetap beraktivitas dan mencapai kepuasan hidup.
b) ketentuan akan meningkatnya penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa lansia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut dalam banyak kegiatan sosial.
c) Ukuran optimal (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lansia.
d) Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke usia lanjut.
2) Teori kepribadian Berlanjut ( continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada usia lanjut. Teori ini merupakan gabungan dari teori di atas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang berusia lanjut sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang dimliki.
3) Teori Pembebasan (Disengagem ent Theory)
Ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lansia menurun, baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga seringg terjadi kehilangan ganda (tripple loss). Definisi kehilangan ganda adalah sebagai berikut.
a) kehilalangan peran (loss of role).
b) Hambatan kontak sosial (restraction of contacts and relationships).
c) Berkurang dan komitmen (social mores and values)

c. Teori Psikologi
Teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah satu teori yang ada. Teori tugas perkembangan yang diungkapkan oleh Hanghurst (1972) adalah bahwa setiap individu harus meperhatikan tugas perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan meniberikan Perasaan bahagia dan sukses. Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi: penerimaan adanya penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, penerimaan masa pension dan penurunan pendapatan, respons penerimaan adanya kematian pasangan atau orang-orang yang berarti bagi dirinya, mempertahankan hubungan dengan kelompok yang sesuai, adopsi dan adaptasi dengan peran sosial secara fleksibel, serta mempertahankan kehidupan secara memuaskan. (chayatin, 2009 )



d. Teori Kesalahan Genetik
Menutut dr. Afgel bahwa proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetik DNA di mana sel genetik memperbanyak diri (ada yang memperbanyak diri sebelum pembelahan sel), sehingga mengakibiitkan kesalahan-kesalahan yang berakibat pula pada terhambatnya pembentukan sel berikutnya, sehingga mengakibatkan kematian sel. Pada saat sel mengalami kematian orang akan tampak menjadi tua. (chayatin, 2009 )
e. Teori Rusaknya Sistem lmun Tubuh
Mutasi yang terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan sistem imun untuk mengenali dirinya berkurang (self recognitlon), sehingga mengakibatkan kelainan pada sel karena dianggap sel asing yang membuat hancurnya kekebalan tubuh. Inilah yang disebut dengan peristiwa autoimun ( mubarak, 2009 : 149 )
f. Teori Penuaan Akibat Metabolisme
Teori penuaan akibat metabolisme menjelaskan bagaimana proses menua terjadi.
1) Datang dengan sendirinya, merupakan "karunia' yang tidak bisa dihindari/ditolak.
2) Usaha dalam memperlambat menjadi awet tua.
3) WHO (1982) usia lanjut yang berguna, bahagia, dan sejahtera. (Mubarak, 2009 ).

5. Perubaha) Perubahan Kondisi Fisik
Perubahan kondisi fisik pada lansia meliputi: perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ tubuh, di antaranya sistem pernapasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskular, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, urogenital, endokrin, dan integumen ( mubarak, 2009 )
b) Perubahan Kondisi Mental
Pada umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. perubahan- perubahan mental erat sekali kaitannya dengan perubahan fisik, keadaan kesehatan tingkat pendidikan atau pengetahuan, dan situasi lingkungan. Adanya kekacauan mental akut, merasa terancam akan timbulnya suatu penyakit atau takut ditelantarkan karena tidak berguna lagi. Munculnya Perasaan kurang mampu untuk mandiri serta cenderung bersifat introvert ( mubarak, 2009 )
c) Perubahan Psikososial
Masalah perubahan psikososial serta reaksi individu terhadap perubahan ini sangat beragam, bergantung pada kepribadian individu yang bersangkutan. Orang yang telah menjalani kehidupannya dengan bekerja, mendadak dihadapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun.
Perubahan yang menjadikan dalam kehidupan akan membuat mereka merasa kurang melakukan kegiatan yang berguna, perubahan yang mereka alami di antaranya adalah sebagai berikut ( mubarak, 2009 )
1) Minat
Lazimnya minat dalam aktivitas fisik cenderung menurun dengan bertambahnya usia. Perubahan minat pada lansia jelas berhubungan dengan menurunnya kemampuan fisik, tidak dapat diragukan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial.
2) Isolasi dan kesepian
Banyak faktor bergabung, sehingga membuat orang berusia lanjut terisolasi dari yang lain. Secara fisik, mereka kurang mampu mengikuti aktivitas yang melibatkan usaha. Makin menurunnya kualitas organ indra yang mengakibatkan ketulian, penglihatan yang makin kabur.. Selanjutnya membuat lansia merasa terputus dari hubungan dengan orang-orang lain. Faktor lain yang membuat isolasi semakin menjadi lebih parah adalah perubahan sosial, terutama meregangnya ikatan kekeluargaan.
3) Peranan iman
Keyakinan iman yang menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir, tetapi merupakan permulaan yang baru memungkinkan individu menyongsong akhir kehidupan dengan tenang dan tentram.
4) Perubahan Kognitif.
Perubahan pada fungsi kognitif di antaranya adalah kemunduran pada tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan dan tugas yang memerlukan memori jangka pendek, kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran, dan kemampuan verbal dalarn bidang vocabulary (kosa kata) akan menetap bila tidak ada penyakit yang meryertai.
5) Perubahan spiritual.
Perubahan yang terjadi pada aspek spiritual lansia adalah sebagai berikut.
a) Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970).
b) Usia lanjut makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam cara berpikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970).
c) Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Fowler adalah universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan bersikap adil ( mubarak, 2009 )

6. Penyakit Yang Sering Dijumpai Pada Lansia
Menurut stilitz dalam nugroho (2000) ada empat penyakit yang sangat erat hubungan dengan proses menua yaitu:
a. Gangguan sirkulasi darah, seperti hipertensi, kelainan pembuluh darah ditolik (koroner) dan ginjal.
b. Gangguan metabolisme hormonal seperti dibetes militus, kalmaktetium dan ketidak seimbangan steroid.
c. Gangguan padfa persendian seperti rematik (osteoatritis, gout atritis, rematik atritis, maupun penyakit kolagen lainnya).
d. Berbagai macam neoplasma.

B. Konsep Dasar Hipetensi
1. Pengertian
Menurut WHO lansia di bagi menjadi 3 kriteria, umur lansia dini 60-74 tahun (elderly), umur tua 75-90 tahun (old), dan sangat tua >90 tahun (very old). Di Negara maju pengendali hipertensi juga belum memuaskan pada tahun 2008 menemukan prevalensi penyakit tidak menular pada usia lanjut antara lain Hipertensi sebanyak (46,3%) (mubarak : 2009).
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dengan keadaan cukup istirahat atau tenang ( Depkes RI, 2007)
Tekanan darah dikatakan normal pada angka 120/80 mmHg. Tekanan darah antara 139/89 mmHg disebut prehipertensi. Lebih dari 140/90 mmHg sudah tergolong hipertensi ( sutomo, 2009)
WHO menggolongkan hipertensi berdasarkan usia, penggolonganya adalah:
a. kelompok usia 20-29 tahun, tekanan darah diatas 150/90 mmHg
b. kelompok usia 30-64 tahun, tekanan darah 160/95 mmHg, dan
c. kelompok usia diatas 65 tahun, tekanan darah diatas 170/95 mmHg.

2. Klasifikasi Hipertensi
Menurut Shanty (2011), berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat dibedakan mejadi dua golongan antara lain:
a. Hipertensi primer atau hipertensi esensial
Hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya namun ada beberapa faktor yang diduga menyebabkan terjadinya hipertensi tersebut antara lain:
1) Faktor keturunan, seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya menderita hipertensi,
2) Ciri perseorangan, ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur, jenis kelamin dan ras,
3) Kebiasan hidup, yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi, kegemukan, makan berlebih, stres, merokok, minum alkohol, minum obat-obatan tertentu (misalnya ephedrine, prednisone, epinefrine).


b. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan oleh beberapa penyakit antara lain:
1) Penyakit parenkim ginjal,
2) Penyakit rnovaskuler,
3) Hiperaldeseronisme primer,
4) Sindrom Crusig,
5) Obat kontrasepsi dan
6) Koarktasio aorta
Hipertensi diklasifikasikan dalam beberapa kategori. World Health Organization (1991-1999) mengklasifikasikan hipertensi menjadi 3 kelompok, yakni hipertensi ringan, hipertensi sedang, dan hipertensi berat. Karena ketiga kelompok tersebut memiliki risiko komplikasi sama besar, maka kategori WHO tidak lagi digunakan. panduan tentang hipertensi didasarkan pada criteria Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment 7 (JNC 7)

Table 1. Klasifikasi JNC 7 (2004)
Kategori
Tekanan Darah (mmHg)
Optimal
Normal
Borderline
Hipertensi
Stadium 1
Stadium 2
Stadium 3
<120/80
120-129/80-84
130-139/85-89
≥140/90
140-159/90-99
160-179/100-109
≥180/110
Sumber : Joint National Committee on Prevention detection, Evaluation, and Treatment on High Blood Pressure 7.
3. Etiologi
Penyebab hipertensi dapat dibagi menjadi dua yaitu :
a. Yang tidak jelas penyebabnya, atau disebut hipertensi primer (hipertensi Esensial).
Menurut Prof. Dr. Kebo (2008), 95% penderita hipertensi tergolong yang primer. Penyebab hipertensi primer (esensial) sampai saat ini masih spekulatif, termasuk didalamnya adalah :
1) Aktifitas saraf simpatis yang berlebihan.
2) Obesitas (kegemukan)
3) Makanan tinggi garam (termasuk mono-sodium glutamate)
4) Makanan yang diawetka,
5) Stres
6) Rokok, kopi, dan minuman yang beralkohol,
7) Makanan yang bersifat panas, seperti daging kambing dan durian,
8) Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh, kolestros tinggi,
9) Kehidupan sedentary (kurang bergerak)
10) Faktor genetik (riwayat keluarga) dan usia.
Faktor genetik dan usia tidak bisa diubah, sedangkan faktor lainya dapat diubah. Penyakit ini dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan stroke.
b. Yang tidak diketehui penyebabnya, atau disebut hipertensi sekunder.
Penyebab hipertensi sekunder, antara lain penyakit ginjal, tumor kalenjar suprarenalis, kelainan hormonal, atau kelainan pembuluh darah. Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensi esensial, penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditunjukkan kependerita hipertensi esensial.


 

Template by:

Free Blog Templates