Friday, September 7, 2012

CONTOH SKRIPSI KEPERAWATAN



ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA
DI GANTUNGAN MAKAMHAJI

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Meraih Derajat Sarjana S-1 Keperawatan





oleh:
HESTHI WAHONO
J 210 080 010








FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA
DI GANTUNGAN MAKAMHAJI

Oleh : Imam Taohid Supramono



Abstrak
Latar Belakang : Posyandu atau pos pelayanan terpadu merupakan program Puskesmas melalui kegiatan peran serta masyarakat yang ditujukan pada masyarakat. Pelayanan kesehatan di posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS). Lansia dalam memanfaatkan posyandu dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tingkat dukungan sosial, sikap lansia, dan sikap kader posyandu dalam memberikan pelayanan.
Tujuan : tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo. Metode : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan analitik observasional dan menggunakan pendekatan cross sectional. Anggota posyandu lansia berjumlah 119 lansia, dengan menggunakan teknik sampling yaitu Simple Random Sampling, jumlah sampel diperoleh sebanyak 54 responden. Instrumen penelitian menggunkan kuesioner, dan lembar absensi kehadiran responden di posyandu lansia. Analisis data menggunakan uji regresi binary logistik.
Hasil : hasil penelitian menunjukkan responden yang tidak aktif sebanyak 28 responden (51,9%). Responden yang kurang mendapat dukungan sosial 26 (48,1%), responden dengan sikap cukup sebanyak 33 responden (61,1%). Hasil uji statistik sebelum menggunakan uji Regresi binary logistik dilakukan pengujian Chi Square. Hasil uji Chi Square antara dukungan sosial dengan pemanfaatan posyandu sebesar p = 0,001. Hasil uji Chi Square antara sikap dengan pemanfaatan posyandu sebesar p = 0,001. Hasil uji Chi Square antara peran kader dengan pemanfaatan posyandu sebesar p = 0,001. Hasil pengujian regresi binary logistik pada variabel dukungan sosial sebesar p = 0,002 dan exp (B) = 1,794, sehingga disimpulkan ada pengaruh dukungan sosial dengan pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo. Variabel
sikap sebesar p = 0,028 dan exp (B) = 1,166, sehingga disimpulkan ada pengaruh sikap lansia tentang fungsi dan manfaat posyandu dengan pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo. Variabel peran kader sebesar p= 0,012 dan exp (B) = 1,183, sehingga disimpulkan ada pengaruh peran kader posyandu dengan pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.

Kata kunci : pemanfaatan posyandu lansia, dukungan sosial, sikap, peran kader






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Secara demografi, berdasarkan data sensus penduduk tahun 1971, jumlah penduduk Indonesia yang tergolong usia 60 tahun ke atas sebesar 5,3 juta atau 4,5% jumlah total penduduk. Terjadi peningkatan 3-4 juta penduduk lansia tiap dekade berikutnya. Bahkan, antara tahun 2005-2010 populasi lansia diprediksikan akan sama dengan balita, yakni kira-kira 19 juta jiwa atau 8,5% jumlah penduduk Indonesia. Penyebaran, status, tingkat pendidikan, dan pekerjaan lansia sangat bervariasi (Hardywinoto & Setiabudhi, 2005). Transisi demografi pada kelompok lanjut usia (lansia) terkait dengan status kesehatan lansia yang lebih terjamin, sehingga usia harapan hidup lansia lebih tinggi dibanding masa-masa sebelumnya. Pertambahan jumlah lansia di Indonesia dalam kurun waktu tahun 1990 – 2025, tergolong tercepat di dunia . Pada tahun 2002, jumlah lansia di Indonesia berjumlah 16 juta dan diproyeksikan akan bertambah menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau sebesar 11,37 % penduduk dan ini merupakan peringkat keempat dunia, dibawah Cina, India dan Amerika Serikat (BPS, 2000). Angka harapan hidup penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 1968 adalah 45,7 tahun, pada tahun 1980 : 55.30 tahun, pada tahun 1985 : 58,19 tahun, pada tahun 1990 : 61,12 tahun, dan tahun 1995 : 60,05 tahun serta tahun 2000 : 64.05 tahun (BPS, 2000). Proses menua pada manusia merupakan suatu peristiwa alamiah yang tidak terhindarkan, dan menjadi manusia lanjut usia (lansia) yang sehat merupakan suatu rahmat (Mangoenprasodjo, 2005). Menjadi tua adalah suatu proses natural dan kadang-kadang tidak nampak mencolok, penuaan akan terjadi di semua sistem tubuh manusia dan tidak semua sistem akan mengalami kemunduran pada waktu yang sama (Pudjiastuti, 2003). Pertambahan usia menyebutkan kemampuan fisik dan mental, termasuk kontak sosial otomatis berkurang. Aspek kesehatan pada lansia seyogianya lebih diperhatikan mengingat kondisi anatomi dan fungsi organorgan tubuhnya sudah tidak sesempurna seperti ketika berusia muda, Hubungan horisontal atau kemasyarakatan juga tidak kalah pentingnya karena perawatan dan perhatian terhadap diri sendiri semakin menurun kualitas dan kuantitasnya (Nurkusuma, 2001). Kecenderungan peningkatan populasi lansia tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus terutama peningkatan kualitas hidup mereka agar dapat terjaga kesehatanya. Pemerintah telah merumuskan berbagai peraturan dan perundang-undangan, yang diantaranya seperti tercantum dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, dimana pada pasal 19 disebutkan bahwa kesehatan manusia lanjut usia diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kemampuannya agar tetap produktif, serta pemerintah membantu penyelenggaraan upaya kesehatan usia lanjut untuk meningkatkan kualitas hidupnya secara optimal. Oleh karena itu berbagai upaya dilaksanakan untuk mewujudkan masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna dan produktif untuk lanjut usia (Pemkot Yogyakarta, 2007). Posyandu atau pos pelayanan terpadu merupakan program Puskesmas melalui kegiatan peran serta masyarakat yang ditujukan pada masyarakat setempat, khususnya balita, wanita usia subur, maupun lansia. Pelayanan kesehatan di posyandu lanjut usia metiputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita atau ancaman salah satu kesehatan yang dihadapi. Jenis pelayanan kesehatan yang diberikan di posyandu lansia antara lain pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari, pemeriksaan status inental, pemeriksaan status gizi, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan hemoglobin, kadar gula dan protein dalam urin, pelayanan rujukan ke puskesmas dan penyuluhan kesehatan. Kegiatan lain yang sesuai kebutuhan dan kondisi setempat seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia dan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran (Pemkot Yogyakarta, 2007). Kegiatan posyandu lansia yang berjalan dengan baik akan memberi bagi lansia kemudahan pelayanan kesehatan dasar, sehingga kualitas hidup masyarakat di usia lanjut tetap terjaga dengan baik dan optimal. Berbagai kegiatan dan program posyandu lansia tersebut sangat baik dan banyak memberikan manfaat bagi para orang tua di wilayahnya. Seharusnya para lansia berupaya memanfaafkan adanya posyandu tersebut sebaik mungkin, agar kesehatan para lansia dapat terpelihara dan terpantau secara optimal. Lansia yang tidak aktif dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan di posyandu lansia, maka kondisi kesehatan mereka tidak dapat terpantau dengan baik, sehingga apabila mengalami suatu resiko penyakit akibat penurunan kondisi tubuh dan proses penuaan dikhawatirkan dapat berakibat fatal dan mengancam jiwa mereka. Penyuluhan dan sosialisasi tentang manfaat posyandu lansia perlu terus ditingkatkan dan perlu mendapat dukungan berbagai pihak, baik keluarga, pemeritah maupun masyarakat itu sendiri. Data kehadiran lansia di Posyandu lansia Gantungan Makam Haji. Pada kurun waktu Januari - Oktober 2009 ditampilkan sebagai berikut :

Tabel 1. Tingkat kehadiran lansia di Posyandu lansia Gantungan Makam Haji periode Januari - Oktober 2009

Bulan
Hadir
Tidak hadir
Persentase kehadiran (%)

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
45
45
45
47
50
48
47
51
36
49
74
74
74
72
69
71
72
68
83
70
37,82
37,82
37,82
39,50
42,02
40,34
39,50
42,86
30,25
41,18
Rata-rata
46,3
72,7
38,91

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa dari total lansia yang terdaftar di Posyandu lansia Gantungan Makam Haji sebanyak 119 lansia, rata-rata kehadiran tiap bulan sebanyak 46 orang lansia atau 38,91%. Data tersebut juga mempunyai arti bahwa rata-rata tiap bulan jumlah kunjungan lansia ke posyandu kurang dari 50% dari total lansia yang terdaftar di posyandu Gantungan Makam Haji.
Ketidakhadiran para lansia ke posyandu, menurut kader posyandu disebabkan oleh berbagai kondisi fisik yang terjadi pada lansia seperti sedang sakit, tidak adanya anggota keluarga yang mengantarkan ke posyandu, yang mengakibatkan rata-rata tiap bulan lansia yang datang posyandu dapat dikatakan sedikit, meskipun dari keterangan kader posyandu sebenarnya sikap lansia terhadap posyandu adalah baik, dimana ada keinginan lansia yang berkunjung ke posyandu sesuai jadwal pelayanan posyandu. Dari studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, peneliti mengamati bahwa kelengkapan alat pemeriksaan pada posyandu Gantungan Makam Haji adalah sudah baik, dimana pada saat pelayanan posyandu pemeriksaan kesehatan bagi para lansia seperti pengukuran tekanan darah, pemeriksaan status gizi, dan pemerikasan kadar gula telah dilakukan dengan baik. Sikap kader posyandu yang baik juga menjadikan lansia merasa diperhatikan, dengan demikian rasa senang dan rasa kekeluargaaan antara lansia dengan kader posyandu dapat dirasakan dimana kedua belah pihak saling berkomunikasi dengan baik mengenai masalah kesehatan. Berdasarkan latar belakang seperti faktor tingkat pengetahuan, sikap lansia, sikap kader posyandu, dan kelengkapan sarana alat kesehatan yang menjadikan para lansia mau berkunjung ke posyandu lansia. Oleh sebab itu penulis ingin meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka rumusan permasalahan pada penelitian adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo?

C.     Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo?
2.      Tujuan Khusus
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk :
a.       Mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.
b.      Mengetahui pengaruh sikap lansia tentang fungsi dan manfaat posyandu terhadap pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.
c.       Mengetai pengaruh peran kader menurut persepsi lansia terhadap pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.

D.     Manfaat Penelitian
1.      Bagi Lansia
Penelitian ini diharapkan dapat mendorong lanjut usia agar lebih aktif dalam berbagai kegiatan di posyandu lansia.
2.      Bagi Posyandu Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi posyandu lansia sehingga lebih mengefektifkan faktor-faktor yang dapat meningkatkan keaktifan lansia untuk memanfaatkan posyandu.
3.      Bagi Peneliti
Memberikan pengetahuan dan pengalaman baru dalam melakukan penelitian serta dapat mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi informasi dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan lansia dalam mengikuti kegiatan Posyandu.
4.      Bagi Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih kepada masyarakat tentang factor-faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan posyandu lansia sehingga masyarakat dapat berperan dalam mendukung kegiatan posyandu lansia. Hasil penelitian ini dapat menambah kesadaran akan arti pentingnya kesehatan, dimana posyandu merupakan salah satu tempat pemeriksaan kesehatan yang sangat penting di lingkungan masyarakat.

E.     Metodologi Penelitian
1.      Desain Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian analitik observasional yaitu peneliti berupaya mencari hubungan antara variabel dan menganalisa atau menguji hipotesis yang dirumuskan (Sugiyono, 2008). Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional, yaitu melakukan pengukuran variabel dependent dan independent hanya satu kali tanpa melakukan follow up (Sastroasmoro & Sofyan, 2002).
2.      Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Gantungan Makamhaji Sukoharjo pada bulan Mei 2010.
3.      Populasi dan Sampel
a.      Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah lansia di desa Gantungan yang berada di wilayah kerja Puskesmas II Kartasura Sukoharjo yang berjumlah 119 orang.
b.      Sampel
1)      Pengambilan Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel menggungkan teknik sampling random sederhana (Simple Random Sampling). Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Peluang yang dimiliki oleh setiap unit penelitian untuk dipilh sebagai sampel sebesar n/N, yakni ukuran sampel yang dikehendaki dibagi dengan ukuran populasi (Notoatmodjo, 2002).
2)      Besar Sampel dan Teknik Sampling
Sampel adalah sebagian dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 54 responden.
Jumlah sampel diperoleh dengan rumus sampel :


Keterangan :
n : Jumlah Sampel
N : Jumlah Populasi
d : Tingkat Signifikasi 10% ( 0,1)
Jadi :
a.       Kriteria sampel
Kriteria sampel dalam hal ini meliputi:
1)      Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dari subjek penilaian yang layak untuk dilakukan penilaian. Kriteria inklusi dalam penilaian ini meliputi:
a)      Umur 56-90 tahun
b)      Terdaftar sebagai anggota posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo
c)      Bersedia menjadi responden
d)      Responden kooperatif, bisa membaca, mendengar dan berbicara
2)      Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah subjek penelitian yang tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian. Kriteria eksklusi penelitian ini adalah:
a)      Responden yang mengalami sakit di rumah sakit
b)      Responden yang sedang tidak berada di tempat penelitian pada saat penelitian dilakukan
c)      Responden yang mengalami pikun

4.      Variabel
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari:
a.       Variabel bebas (independent)
Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat, jadi variabel independent adalah variabel yang mempengaruhi. Variabel independent terdiri dari dukungan sosial, sikap lansia, peran kader posyandu.
b.      Variabel terikat (dependent)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiono, 2005). Variabel dependent adalah pemanfaatan posyandu lansia.

5.      Definisi Operasional

Tabel 1.
Definisi Operasional

Variabel
Definisi
Alat ukur dan parameter
Skala
Dukungan
sosial

Dukungan dari
keluarga untuk
mendorong lansia
selalu aktif dalam
memanfaatkan
keberadaan
posyandu lansia

Kuesioner dengan 16
pertanyaan
1. Baik : skor 43-56
2. Sedang : skor 32- 42
3. Kurang: skor 16-31
(Sumber: Arikunto, 2002)

Ordinal

Sikap tentang
fungsi dan
manfaat
posyandu

Persepsi lansia
tentang fungsi dan
manfaat
keberadaan
posyandu lansia

Kuesioner dengan 16
pertanyaan
1. Baik : skor 29-56
2. Kurang : skor 16-28

Nominal

Peran kader

Persepsi lansia
tentang pelayanan
yang lakukan oleh
kader dalam
memberikan
pelayanan di
posyandu lansia

Kuesioner dengan 17
pertanyaan
1. Baik : skor 29-56
2. Kurang: skor 16-28
(Sumber: Arikunto, 2002)

Nominal

Pemanfaatan
posyandu

Jumlah kehadiran
lansia dalam satu
tahun terakhir di
posyandu lansia

Aktif jika minimal 75% hadir
dari 11 kali kegiatan
Tidak aktif jika kurang dari
75% kehadiran dari 11 kali
pertemuan

Nominal



6.      Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen. Daftar pertanyaan dalam kuesioner bersifat tertutup yaitu responden tinggal memberi tanda terhadap alternatif jawaban yang dipilih.
a.       Metode penilaian sikap lansia dan peran kader dalam pemberian pelayanan di posyandu lansia menggunakan skala Likert (Sugiyono, 2006). Dalam pembuatan kuesioner, peneliti membuat bentuk pertanyaan sendiri dengan dasar landasan teori sikap dan peran kader. Kuesioner ini terdiri dari 4 alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Pertanyaan dibuat dua tipe yaitu favourable dan unfavourable terhadap objek. Metode ini penilaiannya adalah:
1)      Sifat favourable merupakan sifat positif dari pertanyaan, alternatif jawaban yang diberikan adalah :
Sangat Setuju (SS) bernilai 4
Setuju (S) bernilai 3
Tidak Setuju (TS) bernilai 2
Sangat Tidak Setuju (STS) bernilai 1
2)      Sifat unfavourable merupakan sifat negatif dari pertanyaan, alternatif jawaban yang diberikan adalah :
Sangat Setuju (SS) bernilai 1
Setuju (S) bernilai 2
Tidak Setuju (TS) bernilai 3
Sangat Tidak Setuju (STS) bernilai 4
b.      Kuesioner dukungan sosial untuk mengetahuai apakah anggota keluarga memberikan perhatian terhadap kesehatan lansia terhadap pelayanan posyandu. Pertanyaan terdiri dari 16 item dengan skala Guttman, dengan memberikan nilai 2 pada jawaban benar serta 1 untuk jawaban salah.
7.      Pengolahan Data
Pengolahan data penulis menggunakan komputer dengan program statistik SPSS 15 for Windows. Proses pengolahan data setelah data terkumpul, dalam penelitian ini yaitu:
a.       Editing untuk mengecek kelengkapan data.
b.      Koding untuk melakukan skoring terhadap setiap item, dengan cara merubah tingkat persetujuan ke dalam nilai kuantitatif.
c.       Entry data, memasukkan data untuk diolah secara manual atau memakai program komputer untuk dianalisis.
d.      Tabulating, kegiatan memasukkan data yang telah diperoleh untuk disusun berdasarkan variabel yang diteliti.

8.      Analisa Data
a.      Analisis univariate
Analisis univariate yaitu analisis yang digunakan terhadap satu variabel (Notoatmodjo, 2005). Variabel yang dimaksud adalah pengetahuan, support keluarga dan sikap. Pada analisis ini, hanya menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2003). Pengujian univariate dalam penelitian ini adalah dukungan sosial, sikap, peran kader, dan keaktivan responden dalam pemanfaatan posyandu lansia.
b.      Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang digunakan untuk menerangkan keeratan pengaruh antara dua variabel. Pengujian bivariate berupa dukungan sosial dengan pemanfaatan posyandu lansia, sikap dengan pemanfaatan posyandu lansia, dan peran kader dengan pemanfaatan posyandu lansia.
c.       Analisis multivariat
Didefinisikan sebagai analisis data yang dilakukan terhadap lebih dari dua variabel. Biasanya hubungan antara satu variaber terikat (dependent variable) dengan beberapa variabel bebas (independent variable) (Notoatmodjo, 2002). Analisis multivariate digunakan untuk menguji antara variabel terikat yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Pengujian multivariate menggunakan uji Regresi binary logistic, yaitu sejauh mana pemanfaatan posyandu lansia dipengaruhi variabel dukungan sosial, sikap, dan peran kader. Rumus Regresi binary logistik, yaitu:



Keterangan :
p = Peluang terjadinya efek dari variabel dependen (pemanfaatan posyandu lansi)
a = Konstanta
b = Koefisien regresi
x1 = Dukungan sosial
x2 = Sikap
x3 = Peran kader

d.      Etika Penelitian
Masalah etika dalam keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan akan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan karena manusia mempunyai hak asasi dalam kegiatan penelitian. Masalah etika dalam keperawatan meliputi :
1)      Meminta ijin untuk melakukan penelitian di instansi tempat dilakukan penelitian yaitu di Puskesmas II Pabelan, Kartasura.
2)      Informed consent
Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar pertujuan (informed consent). Apabila kader yang telah sesuai dengan kriteria bersedia menjadi responden maka ia akan menandatangani lembar persetujuan namun apabila kader tidak bersedia menjadi responden penelitian maka kader bisa menolak.
3)      Tanpa nama (Anonimity )
Merupakan masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak menuliskan namanya pada lembar kuesioner tapi hanya menuliskan inisial namanya saja.
4)      Kerahasiaan (confidentialy)
Merupakan masalah etika yaitu dengan menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian baik informasi maupun masalah lainnya. Semua informasi dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil penelitian.
e.       Jalannya Penelitian
Penelitian dilakukan dalam beberapa taha
1.      Tahap Persiapan
a)      Pengajuan judul penelitian pada September 2009
b)      Penyusunan proposal bulan mulai bulan Desember 2009
c)      Ujian proposal bulan April 2010
d)      Revisi proposal
Peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen dengan sampel 15 responden kepada lansia di luar responden penelitian di posyandu Pabelan wilayah kerja Puskesmas II Kartasura.
2.      Tahap Pelaksanaan
a)      Peneliti menyerahkan surat permohonan ijin penelitian dari Universitas Muhammadiyah Surakarta kepada Posyandu Gantungan Makamhaji. Peneliti melakukan uji validitas di Desa Pabelan Kartasura. Pada varibel dukungan sosial, soal yang diujikan sebanyak 20 pertanyaan yang dijawab oleh 15 responden. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa terdapat 4 soal yang tidak valid, yaitu soal no 6, dengan nilai rhitung 0,052, soal no 12, dengan nilai rhitung 0,263, soal 14 dengan nilai rhitung 0,424 dan soal no 19 dengan nilai rhitung 0,424, sementara nilai rtabel untuk 15 sebesar 0,444. Hasil soal sikap yang valid diperoleh nilai rhitung mulai dari 0,686-0,917. Hasil uji relibitas soal dukungan sosial diperoleh nilai 0,963, sehingga kuesioner dukungan sosial adalah reliabel. Pengujian validitas pada variabel sikap sebanyak 20 soal. Hasil uji pengujian dengan 15 responden diperoleh hasil 3 soal yang tidak valid, yaitu soal nomor 7 dengan nilai rhitung 0,391, soal nomor 9 dengan nilai rhitung 0,186, soal nomor 12 dengan nilai rtabel =0,441, soal nomoer 18 dengan nilai rhitung 0,186. Hasil uji relibitas soal sikap diperoleh nilai 0,931, sehingga kuesioner sikap adalah reliabel. Pengujian validitas pada variabel peran kader sebanyak 20 soal. Hasil uji pengujian dengan 15 responden diperoleh hasil 3 soal yang tidak valid, yaitu soal nomor 7 dengan nilai rhitung 0,358, soal nomor 15 dengan nilai rhitung 0,495, soal nomoer 16 dengan nilai rhitung 0,235. Hasil uji relibitas soal sikap diperoleh nilai 0,941, sehingga kuesioner peran kader adalah reliabel.
b)      Peneliti mulai melakukan penelitian pada bulan Juni minggu ke-3. Peneliti mendatangi posyandu lansia untuk mencari responden. Kemudian memilih responden sebanyak 54 responden dari 119 anggota Posyandu lansia dengan cara melotre secara acak. Kemudian peneliti masih memasukkan calon responden sebanyak 10% dari 54 responden, yaitu sebanyak 5 responden yang dimaksudkan apabila nantinya peneliti kesulitan di dalam pengambilan data responden, maka responden cadangan yang dipakai.
c)      Responden yang hadir pada pelaksanaan posyandu lansia diketahui sebanyak 49 responden lansia. Oleh karena itu untuk memenuhi jumlah sampel sebanyak 54 responden, peneliti mendatangi 5 responden lansia setelah acara posyandu selesai dilaksanakan. Kader memberi tahu kepada anggota bahwa ada kunjungan tamu yang bermaksud untuk meminta bantuan anggota untuk menjadi responden penelitian. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada para lansia dan lansia setuju untuk menjadi responden penelitian. Peneliti memberikan lembar kuesioner kepada semua responden. Peneliti menerangkan apa saja yang responden belum dipahami dari lembar kuesioner. Selama pengisian lembar kuesioner, peneliti menunggu serta mengamati para responden dalam pengisian. Setelah data terkumpul, peneliti meneliti satu per satu lembar kuesioner yang sekiranya belum lengkap diisi oleh responden.
d)      Peneliti dalam mengambil data responden yang tidak hadir di kegiatan posyandu lansia dengan mendatangi ke rumah responden setelah mendapat alamat dari kader posyandu lansia. Peneliti mengunjungi rumah responden dilakukan pada sore hari, yang diharapkan tidak mengganggu kegiatan para responden. Pencarian data responden sama seperti pada waktu kegiatan posyandu lansia, dimana peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian dan meminta ijin terlebih dahulu kepada calon responden untuk dapat dijadikan responden penelitian. Pengisian lembar kuesioner ditunggu oleh peneliti. Hasil jawaban responden kemudian diteliti kembali sebelum peneliti pamit dari rumah responden.
e)      Data yang terkumpul semua kemudian dicek kembali apakah terdapat data yang masih kurang lengkap dalam pengisian. Hasil pengecekan data tidak ditemukan data yang tidak lengkap. Selanjutnya peneliti memasukkan data tersebut ke dalam program excel yang nantinya dijadikan data induk penelitian. Data yang dimasukkan sesuai dengan isian responden baik jenis kelamin, usia, status pekerjaan, pendidikan, dan hasil jawaban responden pada lembar kuesioner.
f)       Analisa data
Analisis data dalam karakteristik dan variabel univariate meliputi jenis kelamin, usia, status pekerjaan, pendidikan diuji dengan SPSS versi 15.00 yaitu uji frekuensi. Data bivariate diuji menggunakan uji Chi Square yaitu mencari hubungan antara dukungan sosial dengan pemanfaatan posyandu, hubungan antara sikap dengan pemanfaatan posyandu, dan hubungan antara peran kader dengan pemanfaatan posyandu. Pengujian multivariate menggunakan uji regresi binari logistik, yaitu variabel terikat berupa pemanfaatan posyandu, sementara variebel bebas berupa dukungan sosial, sikap dan pera kader.
3.      Tahap Pelaporan
Data statistik yang telah diuji dengan program SPSS, langkah selanjutnya menganalisis dan menginteprestasikan di bab IV dan diambil kesimpulan di bab V sesuai dengan teori yang mendukung, dan dibandingkan dengan hasil penelitian lain yang mendukung. Setelah selesai hasil penelitian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing dan diujikan di depan dosen penguji dan pembimbing.
F.      Hasil Penelitian
1.      Hasil Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode deskriptif analitik dengan pendekatan Cross sectional. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo. Hasil penelitian yang telah dilakukan selama bulan Juni 2010 diperoleh data baik data karakteristik responden mengenai umur, jenis kelamin, pendidikan, status tinggal, sementara data univariate meliputi data dukungan sosial, sikap lansia, peran kader dan pemanfaatan posyandu yang ditinjau dari tingkat kehadiran.
a.       Karakteristik responden
1)      Umur
Hasil pengumpulan data umur responden diperoleh gambaran bahwa umur termuda 56 tahun dan tertua adalah 86 tahun. Rata-rata umur responden adalah 64,27 tahun. Berdasarkan rentang umur tertua dan termuda, maka distribusi umur responden dibagi menjadi 4 kelompok umur yang mengacu pada WHO, dimana pembagian Usia pertengahan (middle age) usia 45 – 59 tahun, lanjut usia (elderly) usia 60 – 74 tahun, lanjut usia tua (old) usia 75 – 90 tahun, dan usia sangat tua (very old) yaitu di atas usia 90 tahun. Distribusi responden menurut kelompok umur ditampilkan pada gambar 3.



Gambar 3. Distribusi responden menurut kelompok umur
Berdasarkan gambar 3, responden terbanyak pada kelompok umur 60-74 tahun dengan jumlah 27 responden (50,0%), kemudian kelompok umur 56-59 tahun sebanyak 16 responden (29,6%) dan terakhir kelompok umur 75-90 tahun sebanyak 11 responden (20,4%). Pemanfaatan posyandu lansia oleh responden berkaitan dengan umur adalah rata-rata lansia yang hadir dalam kegiatan posyandu umur 60-70 tahun. Menurut Ananta umur harapan hidup wanita lebih tinggi dari pria. Dalam kurun waktu 1995-2000 umur harapan hidup pria 63,33 tahun dan wanita 69,0 tahun. Hardywinoto (2005) menyatakan bahwa pada umur tersebut sangat butuh sarana pelayanan kesehatan terkait penurunan berbagai fungsi dan kelemahan.
2)      Jenis kelamin
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan. Distribusi responden menurut jenis kelamin ditampilkan pada gambar 4.




Gambar 4. Distribusi responden menurut jenis kelamin
Berdasarkan gambar 4, responden perempuan berjumlah 44 (81,5%) orang lansia dan responden laki-laki berjumlah 10 orang lansia (18,5%). Responden yang menjadi anggota posyandu lansia di tempat penelitian adalah 119 anggota dengan jumlah perempuan 18 lansia laki-laki dan perempuan berjumlah 101 lansia perempuan, sehingga pada waktu penelitian jumlah responden penelitian terbanyak adalah responden perempuan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (2009) menyatakan bahwa jumlah lansia di Indonesia berdasarkan jenis kelamin, jumlah lansia laki-laki di Indonesia pada tahun 2009 berjumlah 9.290.782 jiwa dan lansia perempuan berjumlah 11.256.759 jiwa dengan demikian jumlah peserta posyandu ditempat penelitian sesuai dengan jumlah lansia perempuan di Indonesia yang lebih banyak jumlahnya dibanding lansia laki-laki.
3)      Pendidikan
Hasil penelitian mengenai tingkat pendidikan responden, menunjukkan terbanyak berpendidikan SMP, selengkapnya distribusi responden menurut tingkat pendidikan ditampilkan pada gambar 5.



Gambar 5. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan
Gambar di atas memperlihatkan bahwa responden yang berpendidikan tidak sekolah tidak ada (0%), SD 19 responden (35,22%), SMP 24 responden (44,4%), SMA 11 responden (20,4%), sementara yang berpendidikan Perguruan Tinggi (PT) tidak ada (0%). Tingkat pendidikan responden secara formal memang rendah dimana tingkat pendidikan SMP dalam program pendidikan nasional masih menjadi pendidikan wajib belajar 9 tahun. Dengan keterbatasan pendidikan akan juga berpengaruh mengenai pola hidup sehat. Sejalan dengan Purwanto (2000), yang mengemukakan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh pada perilaku kesehatan adalah tingkat pendidikan. Hasil pendidikan ikut membentuk pola berpikir, pola persepsi dan sikap pengambilan keputusan seseorang. Pendidikan seseorang yang meningkat mengajarkan individu mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya. Namun tingkat pendidikan yang rendah tidak selamanya akan menghambat seseorang untuk belajar dari media lain, seperti televisi, koran, majalah, radio dan pengalaman-pengalaman orang lain yang dijadikan reverensi bagi dirinya. Keadaan ini tercermin padaresponden penelitian dimana tingkat pendidikan mayoritas rendah, namun responden masih mau mengikuti kegiatan posyandu lansia
4)      Status tinggal
Hasil penelitian mengenai status tinggal responden, menunjukkan terbanyak tinggal bersama istri/suami atau anak, selengkapnya distribusi responden menurut status tinggal ditampilkan pada gambar 6.




Gambar 6. Distribusi responden menurut status tinggal
Berdasarkan gambar 6, responden yang tingal bersama istri/suami dan anak sebanyak 39 responden (72,2%), tinggal sendiri sebanyak 1 responden (1,9%), dan yang tinggal bersama anak sebanyak 14 responden (25,9%).

b.      Analisis Univariate
1)      Dukungan sosial
Hasil penelitian mengenai dukungan sosial diperoleh setelah responden mengisi lembar kuesioner sebanyak 16 pertanyaan. Jawaban responden dikelompokkan menjadi 3 yaitu baik, sedang dan kurang. Hasil distribusi dukungan sosial ditampilkan pada gambar 7.



Gambar 7. Distribusi responden menurut dukungan sosial
Gambar 7 menunjukkan bahwa responden yang kurang mendapat dukungan sosial sebanyak 17 responden (31,5%), yang mendapat dukungan sosial sedang sebanyak 20 (37,0%) dan mendapat dukugan sosial baik sebanyak 17 responden (31,7%).
2)      Sikap
Hasil penelitian mengenai sikap, diperoleh setelah responden menjawab kuesioner sikap sebanyak 16 pertanyaan. Distribusi jawaban responden dikelompokkan menjadi 2 kategori, yaitu kurang, dan baik. Jika nilai responden 16-28 masuk kategori kurang, dan 29-56 masuk kategori baik. Hasil selengkapanya ditampilkan pada gambar 8.


Gambar 8. Distribusi responden menurut sikap
Berdasarkan gambar 8 bahwa responden yang mempunyai sikap kurang sebanyak 33 responden (61,1%) dan sikap baik sebanyak 21 responden (38,9%).
3)      Peran kader
Hasil penelitian mengenai peran kader posyandu lansia, diperoleh setelah responden menjawab kuesioner sikap sebanyak 17 pertanyaan. Distribusi jawaban responden dikelompokkan 2 kategori, yaitu kurang, dan baik. Jika nilai responden 16-28 masuk kategori kurang, dan 29-56 masuk kategori baik Hasil selengkapanya ditampilkan pada gambar 9.


Gambar 9. Distribusi menurut penilaian responden terhadap peran kader posyandu lansia
Berdasarkan gambar 9 responden yang menilai peran kader yang kurang sebanyak 31 responden (57,4%) dan peran kadern yang baik sebanyak 23 responden (42,6%).
4)      Pemanfaatan Posyandu lansia
Hasil penelitian mengenai pemanfaatan posyandu lansia, diperoleh dari tingkat kehadiran responden ke posyandu lansia. Jadwal kegiatan adalah tiap bulan, namun pada bulan puasa kegiatan diliburkan sehingga dalam 1 tahun ada 11 kali pertemuan. Apabila kehadiran kurang dari 75% atau 8 kali kehadiran, responden masuk tidak aktif, jika kehadiran > 75% atau >8 kali kehadiran maka responden masuk kategori aktif. Distribusi responden menurut pemanfaatan posyandu lansia ditampilkan pada gambar 10.




Gambar 10. Distribusi responden menurut pemanfaatan posyandu lansia
Gambar 10 menunjukkan bahwa responden yang tidak aktif sebanyak 28 responden (51,9%) dan yang aktif mengikuti posyandu lansia sebanyak 26 responden (48,1%).
c.       Analisis Bivariate
1)      Hubungan dukungan sosial dengan pemanfaatan posyandu lansia
Tabel 3. Distribusi responden menurut dukungan sosial dan pemanfaatan





Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 17 responden yang kurang mendapat dukungan sosial dan tidak aktif di posyandu lansia sebanyak 15 responden (27,8%), sementara yang aktif terdapat 2 responden (7,7%). Sebanyak 20 responden yang mendapat dukungan sosial sedang dengan tidak aktif diposyandu lansia sebanyak 10 responden (18,5%), sementara responden yang aktif sebanyak 10 responden (18,5%). Sebanyak 17 responden yang mendapat dukungan sosial baik, namun tidak aktif di posyandu lansia sebanyak 3 responden (5,6%) dan yang aktif di posyandu lansia sebanyak 14 responden (25,9%). Hasil pengujian chi Square menunjukkan nilai pvalue = 0,001 (p<0,05)., sehingga disimpulkan bahwa variabel dukungan sosial mempunyai hubungan dengan pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.
2)      Hubungan sikap dengan pemanfaatan posyandu lansia
Tabel 4. Distribusi responden menurut sikap dan pemanfaatan posyandu lansia








Berdasarkan tabel 4, menunjukkan bahwa dari 33 responden yang memiliki sikap kurang dan tidak aktif diposyandu lansia sebanyak 23 responden (42,6%), namun yang aktif sebanyak 10 responden (18,5%). Sebanyak 21 responden yang memiliki sikap baik namun tidak aktif sebanyak 5 responden (9,3%) dan yang aktif sebanyak 16 responden (29,6%). Hasil pengujian Chi Square menunjukkan nilai p-value = 0,001 (p<0,05), sehingga disimpulkan bahwa variabel sikap mempunyai hubungan dengan pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.
3)      Hubungan peran kader dengan pemanfaatan posyandu lansia
Tabel 5. Distribusi responden menurut peran kader dan pemanfaatan posyandu lansia





Berdasarkan tabel 5, menunjukkan bahwa dari 31 responden yang menilai peran kader kurang sehingga responden tidak aktif sebanyak 22 responden (40,7%), namun yang tetap aktif sebanyak 9 responden (16,7%). Sebanyak 23 responden yang menilai peran kader dengan baik, menjadikan responden tidak aktif sebanyak 6 responden (11,1%) sedangkan yang menjadikan responden aktif sebanyak 17 responden (31,5%). Hasil pengujian Chi Square menunjukkan nilai pvalue = 0,001 (p<0,05)., sehingga disimpulkan bahwa variabel peran kader mempunyai hubungan dengan pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.
d.      Analisis Multivariate
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan alat analisis binary logistic dengan tujuan untuk menetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo. Hasil pengujian hipotesis dengan pengujian regresi binary logistic ditampilkan pada tabel 6.







Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 6, memperlihatkan bahwa variabel dukungan sosial nilai signifikansi p-value = 0,002, dengan demikian disimpulkan bahwa faktor dukungan sosial mempengaruhi pemanfatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo. Sastroasmoro dan Sofyan (2002). Nilai Exp (B) adalah dihitung dengan membagi prevalens efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan prevalens efek pada kelompok tanpa faktor risiko. Nilai Exp (B) = 1,79 mempunyai arti bahwa responden yang mendapatkan dukungan sosial baik menjadikan aktif datang ke posyandu lansia dalam pemanfaatan posyandu lansia dibanding dengan responden yang kurang atau tidak mendapat dukungan sosial. Hasil pengujian statistik dengan uji chi square maupun uji regresi logistik menunjukkan bahwa variabel sikap mempunyai pengaruh terhadap pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo. Hasil penelitian mengenai sikap responden terhadap pemanfaatan posyandu lansia searah dengan penelitian Abimanyu (2005) yaitu Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Lansia terhadap Pemanfaatan Posyandu Lansia di Kelurahan Garung Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap lansia terhadap pemanfaatan posyandu lansia, didapatkan hasil p value = 0,019 (p<0,05). Ganster cit. Cahyaningtyas (2002) mengemukakan bahwa dukungan sosial didefinisikan sebagai tersedianya hubungan yang bersifat menolong dan mempunyai nilai khusus bagi individu yang menerimanya. Hasil pengujian univariate menunjukkan bahwa responden yang kurang mendapat dukungan sosial 20 (37,0%). Kurangnya dukungan sosial dapat terjadi dari anggota keluarga seperti anak, istri ataupun suami. Kurangnya dukungan ini terjadi karena anak menganggap bahwa kegiatan posyandu kurang bermanfaat. Anak responden berpendapat bahwa lebih baik orang tua jika melakukan pemeriksaan kesehatan datang ke rumah sakit atau dokter. Selain itu baik anak mempunyai kesibukan tersendiri. Adanya kesibukan pada anggota keluarga akan mempengaruhi dalam bentuk dukungan sosial. Dimana responden yang datang ke posyandu tidak diantar oleh anggota keluarga. Namun bentuk dukungan sosial lain dapat dari teman responden sesama lansia. Responden mendatangi rumah lansia lain untuk ikut serta atau datang ke posyandu. Dengan demikan jumlah responden yang tidak mendapat dukungan dari anggota keluarga masih memiliki dukungan dari teman atau tetangga yang ikut dalam posyandu lansia. Hasil pengujian variabel sikap mempuyai nilai signifikansi p-value = 0,028, dengan demikian disimpulkan bahwa faktor sikap responden mempengaruhi pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo. Nilai Exp (B) = 1,166 mempunyai arti bahwa responden yang memiliki sikap yang baik menjadikan responden aktif datang keposyandu lansia dalam pemanfaatan posyandu lansia dibanding dengan responden memiliki sikap yang cukup atau kurang baik. Hasil pengujian pada sikap responden diperoleh data yaitu sikap cukup sebanyak 33 responden (61,1%) dan sikap baik sebanyak 21 responden (38,9%). Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa sikap dan tindakan merupakan respon internal setelah adanya pemikiran, tanggapan, sikap batin dan pengetahuan. Tindakan atau perilaku manusiawi ini dipengaruhi oleh keturunan, lingkungan dan pengetahuan. Dalam tahap proses beraktivitas, setelah individu melakukan pencarian dan pemrosesan informasi, langkah berikutnya adalah menyikapi informasi yang diterima, apakah individu akan meyakini informasi yang diterima, hal ini berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki. Responden yang lebih banyak yang memiliki sikap cukup dalam pemanfaatan posyandu lansia dipengaruhi oleh kondisi yang menjadikan sikap responden masuk kategori cukup. Responden menggap bahwa adanya kegiatan posyandu lansia sebenarnya adalah baik, namun kegiatan yang rutin diadakan setiap bulannya, banyak tidak mengalami perubahan, baik dari jenis pelayanan, maupun jumlah peserta yang datang ke posyandu lansia. Responden lansia tentunya tetap menginginkan bahwa pelayanan posyandu dan jenis pelayanan posyandu lansi dapat bertambah banyak variasinya. Kegitan yang dianggap monoton, seperti pemeriksaan tekanan darah, penimbangan berat badan dan pengobatan dari petugas kesehatan apabila responden mengeluh sakit. Dengan acara yang tidak berkembang menjadikan sikap responden cukup. Hasil penelitian ini searah dengan penelitian yang dilakukan oleh Henniwati (2008) yang berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan posyandu lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Aceh timur. Hasil penelitian menujukkan bahwa sikap, peranana kader, jarak, kualitas pelayanan mempengaruhi responden dalam pemanfaatan pelayanan posyandu lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Aceh timur. Variabel peran kader mempuyai nilai signifikansi p-value = 0,012, dengan demikian disimpulkan bahwa faktor peran kader mempengaruhi pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo. Nilai Exp (B) = 1,183 mempunyai arti bahwa peran kader yang baik menjadikan responden aktif datang ke posyandu lansia dalam pemanfaatan posyandu lansia dibanding dengan peran kader memiliki cukup atau kurang baik. Sukarni (2002) menyatakan bahwa kader kesehatan bertanggung jawab terhadap masyarakat setempat, mereka bekerja dan berperan sebagai seorang pelaku dari sebuah sistem kesehatan. Kader betanggung jawab kepada kepala desa dan supervisor yang ditunjuk oleh petugas/tenaga pelayanan pemerintah keberadaan kader posyandu lansia sangat berperan dalam pemanfaatan posyandu lansia. Dalam menjalankan tugasnya sebagai kader perlu adanya suatu sikap, perilaku dari kader yang baik. Apabila sikap dan perilaku kader baik akan memperoleh penilaian yang baik bagi peserta posyandu secara baik. Azwar (2003) mengemukakan bahwa sikap dapat diubah dengan strategi persuasi yaitu memberi ide, pikiran, pendapat, bahkan fakta baru lewat pesan komunikatif selanjutnya disebutkan bahwa faktor yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang yang dianggap berpengaruh, media massa, institusi atau lembaga pendidikan, dan faktor-faktor emosi dalam individu. Kemampuan kader baik ditinjau dari pendidikan dan pengetahuan kader harus dapat diaktualisasikan secara baik seperti dalam pemberian motivasi terhadap lansia agar mau untuk datang ke posyandu pada jadwal berikutnya, kader harus mampu memberikan penjelasan atas pertanyaanpertanyaan dari lansia mengenai kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kader mayoritas adalah cukup. Kondisi ini tidak lepas dari penilaian responden atas kinerja kader posyandu. Penilaian yang cukup dari responden disebabkan karena kegiatan yang dilakukan di posyandu belum banyak perubahan para kader maupun petugas kesehatan untuk mau mengajak responden ataupun mau mendatangi ke rumah responden yang sudah lama tidak berkunjung ke posyandu lansia. Hasil penelitian ini berkaitan dengan peran kader sejalan dengan penelitian Wisudiyanto (2008) Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Posyandu Lansia terhadap Pengetahuan dan Sikap Kader dalam Pemberian Pelayanan di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Kauman Ngawi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang posyandu lansia terhadap sikap kader dalam pemberian pelayanan di posyandu lansia wilayah kerja Puskesmas Kauman Ngawi.
2.      Keterbatasan Penelitian
a.       Banyak variabel yang dapat mempengaruhi pemanfaatan posyandu lansia, antara lain, jarak tempuh, kualitas pelayanan, lokasi posyandu, tingkat ekonomi, akan tetapi penulis dalam penelitian ini hanya meneliti sikap, dukungan sosial dan peran kader menurut persepsi lansia.
b.      Dalam penelitian ini menggunakan metode pengisian kuesioner yang telah disediakan sehingga tidak bisa mendapatkan data secara mendalam dan lebih tepat jika menggunakan metode kualitatif.

G.    Simpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti menarik kesimpulan:
a.       Ada pengaruh dukungan sosial terhadap pemanfatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.
b.      Ada pengaruh sikap tentang fungsi dan manfaat posyandu terhadap pemanfatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.
c.       Ada pengaruh peran kader terhadap lansia dalam pemanfaatan posyandu lansia di Desa Gantungan Makamhaji Sukoharjo.

2.      Saran
a.      Bagi Puskesmas
Puskesmas hendaknya melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penyuluhan berbagai macam hal berkaitan dengan masalah kesehatan dalam pelayanan posyandu lansia sehingga dapat lebih mengerti pada masalah kesehatan dan mau untuk lebih memanfaatkan posyandu lansia.
b.      Bagi Kader
Kader lansia hendaknya senantiasa meningkatkan pengetahuan dan sikap dalam memberikan pelayanan di posyandu lansia, sehingga peran kader lansia di masyarakat dapat optimal.
c.       Bagi Keluarga lansia
Anggota keluarga lansia hendaknya untuk meningkatkan dukungannya terhadap lansia untuk mau memanfaatkan posyandu lansia.

H.    Daftar Pustaka
Abimanyu 2005. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Lansia terhadap Pemanfaatan Posyandu Lansia di Kelurahan Garung Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo. Skripsi. Tidak diterbitkan. Fakultas Kesehatan. Universitas Diponegoro. Semarang.

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, S.2003. Lansia Bisa Jadi Masalah Kalau..... www.depkes.go.id
Azwar, S. 2000. Pengantar Psikologi Intelegensi. Jakarta : Pustaka Relajar.
Cahyaningtyas, N. 2002. Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Motif Berprestasi Anak Underchielen. Skripsi. Tidak diterbitkan. Fakultas Psikologi UMS. Surakarta
Depkes RI. 2006. Pedoman pelatihan kader kelompok usia lanjut bagi petugas kesehatan. Jakarta: Direktorat kesehatan keluarga.
Depkes, 2008, Pedoman Pembinaan Kesehatan Jiwa Usia Lanjut bagi Petugas Kesehatan,Available from:http//www.depkes.go.id/download/Keswa_Lansia
Effendi, Nasrul, 1998. Dasar-Dasar Perawatan Kesehatan Masyarakat, Jakarta : EGC.
Handoko, Martin. 2000. Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku, Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Hardywinoto. 1999. Panduan Gerontologi: Tinjauan Dari Berbagai Aspek. PT. Gramedia Puataka Utama. Jakarta.
Hardywinoto. 2005.. Panduan Gerontologi: Tinjauan Dari Berbagai Aspek. PT. Cetakan kedua. Gramedia Puataka Utama. Jakarta.
Henniwati. 2008. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Timur. Tesis. Tidak diterbitkan. Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumatra Utara.
Johnson, D.W dan Johnson, F.P. 1991. Joining Together Group Theory and Group Skills 4th edition. New Jersey : Prentice Hall.
La Monica, Elaine Lynne. 1998. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan. Jakarta: EGC.
Mangoenprasodjo A. 2005. Mengisi Hari Tua Dengan bahagia. Yogyakarta.
Martani. 1998. Manajemen SDM Berdasarkan Kompetensi. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.
Niven, N. 2002. Psokologi Kesehatan: Pengantar untuk Perawat Profesional Kesehatan Lain Edisi 2. Alih Bahasa: Agung Waluyo. Editor Monica Ester. Jakarta:EGC
Notoadmojo. 2005. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka cipta: Jakarta.
Notoadmodjo, S. 2003, Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta
Notoatmodjo, S. 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, PT Rineka Cipta, Jakarta.
Nugroho, (2000), Keperawatan Gerontik. Edisi 2 Penerbit buku Kedokteran. Jakarta. EGC.
Nurkusuma, Dudy D. 2001. Posyandu Lanjut Usia di Puskesmas Pare Kabupaten Temanggung. (http://www.tempo.co.id/medika/arsip/082001/lap-1.htm. Diakses tanggal 8 November 2008)
Pemkot Jogja, 2007. Pemkot Jogja Peduli Lansia. (http://mediainfokota.jogja.go.id/-detail.php?berita_id=58. Diakses tanggal 8 Januari 2010)
Pudjiastuti. 2003. Fisioterapi Pada Lansia. EGC. Jakarta.
Purwanto, Heri. 2000 Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
Ruwaida, A. 2006. Hubungan Antara Kepercayaan Diri dan Dukungan Keluarga dengan Kesiapan Menghadapi Masa Menopause. Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi, vol. 8, No.2, Nopember 2006
Sarafino, E.P. 1994. Health Psychology. Biopsychosocial Interactions. New York: John Willey & Sons, Inc.
Sarason, I.G., Levine, H.M., Basham, R.B & Sarason, B.R. (1983). Assesing Social Support : The Social Support Questionaire. Journal of Personality and Social Psychology Sastroasmoro dan Sofyan. 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: CV. Sagung Seto
Sugiyono, 2008, Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta
Sugiyono, 2006. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : IKAPI
Sugiyono. 2005. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sukarni M.2002. Kesehatan Keluarga Dan Lingkungan. Yogyakarta: Kanisius Suraji, I.A. 2006. Hubungan Antara Kepercayaan Diri dan Dukungan Keluarga Terhadap Interaksi Sosial pada Remaja Tuna Rungu. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta : Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Thoits, P.A. 1986. Social Support as Coping Assistence. Journal of Consulting and Clinical Psychology.
Wahyuni. 2003. Kajian terhadap Kesejahteraan Penduduk Lanjut Usia di Pedesaan. Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII Bidang Dinamika Sosial, Ekonomi, dan Budaya. IPB, Bogor. Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar) Edisi 3. Yogyakarta: Andi Offset
Watson, 2003. Perawatan pada Lansia. Jakarta : EGC.
WHO. 1999. Informasi Kesehatan. www.infokes.com
Widayatun, Tri Rusmi. 1999. Ilmu Perilaku M.A.104: Buku Pegangan Mahasiswa Akper. Jakarta: Sagung Seto.
Wisudiyanto, A. W. 2008 Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Posyandu
Lansia terhadap Pengetahuan dan Sikap Kader dalam Pemberian
Pelayanan di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Kauman Ngawi. Skripsi. Tidak diterbitkan. Fakultas Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.


JANGAN RAGU UNTUK BELAJAR SURVAY KARNA INI DI BAYAR, KLIK DISI UNTUK MENDAPATKAN KEMUDAHANYA

 




1 comments:

Wawan Tarwan said...

boleh minta tolong kirim keemail.wawantarwanwan@yahoo.com

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates