Saturday, March 31, 2012

Tifus (Typhus) pada Bayi

Imunisasi untuk mencegah tifus pada bayi memang belum ada. Namun infeksi ini sangat mungkin disembuhkan hingga tuntas.
Rasanya sulit dipercaya kalau si kecil yang masih bayi bisa terkena tifus.
Tapi itulah faktanya. Bahkan,* dr. Mugiyo, Sp.A.* dari RS PMI, Bogor, telah
pula mendapatkan banyak kasus *neonatal typhoid *alias tifus pada bayi.
Demam tifoid atau tifus adalah penyakit saluran cerna yang disebabkan
bakteri *Salmonella* *typhi* dan *Salmonella* *typhimurium*. Bakteri ini
hidup di sanitasi yang rendah seperti lingkungan kumuh.
Pada bayi, penyakit ini didapat melalui dua cara penularan, yaitu:
1. Lewat ibu
Penularan bisa terjadi sejak bayi masih dalam kandungan yang dibawa hingga persalinan, dan lewat air susu ibu. Kasus ini didasarkan pada penderita beberapa bayi yang sudah menderita tifus dengan gejala kejang-kejang pada saat beberapa jam atau hari sesudah lahir. Padahal, mereka belum minum ASI atau belum mengonsumsi apa pun. Setelah mengambil sampel dari cairan lumbal ternyata ada kuman tifoid dan kuman ini dibawa dari ibunya sejak si bayi masih di kandungan. Memang kuman tifus itu sifatnya sangat penetratif, bisa menembus dinding-dinding barier.
Sementara, penularan lewat ASI ditemukan pada bayi-bayi yang menyusu secara eksklusif dan berulangkali terserang demam serta diare. Ini, kan, juga
sesuatu yang perlu dicurigai karena ASI sebenarnya makanan yang paling
higienis untuk bayi. Tapi kenapa bayinya selalu terserang penyakit infeksi,
seperti demam dan diare. Setelah diperiksa pencernaanya enggak apa-apa.
Setelah diberi antibiotik, sembuh, tapi nanti terserang lagi. Barulah setelah diteliti lebih lanjut melalui serangkaian tes, di antaranya tes darah, ternyata bayi-bayi itu menderita tifus yang ditularkan lewat ASI.
2. Lewat makanan tambahan
Umumnya terjadi bila makanan yang dikonsumsi bayi kurang diperhatikan
kebersihannya. Entah saat pengolahan, penyajian, dan pemberian. Akibatnya, bayi terinfeksi kuman yang menjadi penyebab tifus.
*GEJALA SUKAR DIDETEKSI*
Sayangnya, gejala tifus pada bayi sukar dideteksi. Tak seperti pada anak
balita yang sudah bisa mengeluh mual, pusing, atau suhu tubuhnya tinggi.
Sementara bayi hanya bisa menangis atau rewel. Kadang disertai demam dan
diare sehingga umumnya dokter akan mengira bayi terkena penyakit infeksi
saluran pencernaan. Padahal bisa saja dia sebenarnya sudah terserang tifus.
Kalaupun diberikan obat antibiotik, hanya menghentikan diare atau demamnya saja. Bisa-bisa nanti tifusnya muncul lagi.
Karena itulah, tifus tak boleh dianggap enteng atau harus diobati secara
total. Bakterinya sangat cepat berkembang biak dan menjalar ke mana-mana
melalui pembuluh darah. Bisa menyerang paru-paru, hati, hingga otak. Tifus
yang sudah tergolong berat akan sulit diobati karena sudah telanjur terjadi
komplikasi. Jika bakterinya sudah menyerang paru-paru, penderita akan sulit bernapas. Lebih parah lagi jika bakteri sudah masuk ke otak, bayi bisa
kejang-kejang karena radang otak.
BISA DIOBATI
56586291Untungnya, metode pengobatan yang semakin maju sudah bisa menyembuhkan tifus pada bayi. Jika tifusnya ringan (istilahnya gejala tifus atau paratifus), dokter akan menyarankan banyak istirahat, banyak minum, dan obat antibiotik yang diberikan harus dihabiskan. Jika dosis obat ditetapkan 4 kali sehari, maka harus ditaati. Kalau cuma diminum 3 kali sehari, kuman tak akan bersih terbasmi. Pengobatan yang tak tuntas membuat bakteri akan terus terbawa dan berkembang biak. Akibatnya, tingkat kemungkinannya untuk kambuh lagi sangat tinggi.
Tentunya, si bayi harus dirawat baik-baik karena perawatan dan pengobatan
bisa menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Ingat, meski masih tahap ringan, kuman terus menyebar dan berkembang-biak dengan cepat.
Selain itu, sumber tifus pada bayi juga perlu diteliti. Bila penyebabnya
ASI, tentu ibunya harus ‘dibersihkan’ juga dari tifus. Bila tidak, tifus ini
bakal kambuh terus. Kalau yang masuk lewat ASI hanya berupa partikel dari
tifus, maka yang akan muncul gejala mencret-mencret. Tapi kalau yang menular ke bayi adalah kuman, akibatnya yaitu infeksi yang berisiko menjalar ke otak.
Jadi, selama ibu sebagai sumber penularan tak disembuhkan tuntas, si bayi
akan tetap mengalami gangguan. Namun begitu, Mugiyo mengingatkan, ASI jangan sampai dihentikan. Sambil ibu dan bayi diobati, ASI jalan terus karena inilah makanan utama untuk bayi.
PENCEGAHAN TIFUS PADA BAYI
1. Ibu

  • Pada minggu-minggu terakhir sebelum persalinan, pastikan ibu dalam kondisi
    bebas virus dan kuman agar tak menulari bayinya sewaktu persalinan kelak.
  • Jaga kebersihan dan makanan ibu selama menyusui. Pastikan makanan dan
    minuman yang dikonsumsi selalu terjamin kebersihannya.
  • Periksa kesehatan ibu apabila bayi yang disusui sering diare atau demam.
2. Bayi
  • Untuk bayi yang mulai mengonsumsi makanan tambahan, pastikan kebersihan makanannya terjamin.
  • Biasakan bayi selalu dalam keadaan bersih. Sehabis kencing atau buang air besar, bersihkan dengan tuntas.
  • Lakukan imunisasi wajib sesuai jadwal.
3. Lingkungan
  • Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Pastikan air diambil dari tempat yang higienis seperti sumur dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air terlebih dulu hingga mendidih (1000C).
  • Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Jangan pernah membuang kotoran bayi secara sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteri *Salmonella typhi*, terutama ke makanan.
  • Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.
  • Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga (orang tua dan anak yang lebih besar). Vaksinasi dapat mencegah kuman masuk dan berkembang biak. Saat ini pencegahan terhadap kuman *Salmonella* sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Anak usia 2 tahun yang juga rentan terhadap tifus, lakukan vaksinasi.
Bila ada anggota keluarga yang mengidap kuman (*carrier*), pengawasan
diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Kalau dia
lengah, sewaktu-waktu penyakitnya bisa kambuh.
TIFUS, SEPINTAS KILAS
Menurut penelitian di Bagian Anak FKUI tentang bayi yang kejang waktu baru lahir, 80 persen penyebabnya adalah tifus. Penyakit ini juga ikut menyumbang angka kematian bayi yang sangat tinggi di Indonesia dimana 90 persennya akibat penyakit infeksi.
Penyakit tifus umumnya berawal dari konsumsi makanan ataupun minuman yang tercemar oleh bakteri *Salmonella* *typhi* dan *Salmonella* *typhimurium*. Keduanya biasa terdapat pada makanan dan minuman yang kurang higienis ataupun dari sumber air yang tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi. Dengan kata lain, bibit penyakit masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna.
Proses perkembangbiakan bakteri ini cepat, yaitu 24-72 jam setelah masuk ke dalam tubuh. Meski belum menimbulkan gejala, bakteri telah mencapai
organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. Rentang waktu antara masuknya kuman sampai timbulnya gejala penyakit sekitar 7 hari.
Gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa
itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat interleukin. Zat inilah yang akan merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk kembali dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya.
Gejala yang mungkin timbul adalah mual, muntah, demam tinggi berfluktuasi
atau naik-turun, nyeri kepala hebat, dan nyeri perut yang diawali sembelit,
kadang diikuti diare bercampur darah. Pengobatan umumnya dilakukan bila
pemeriksaan laboratorium memberikan hasil positif. Pemeriksaan laboratorium ini juga diperlukan untuk menentukan jenis antibiotik yang paling tepat.
Namun tidak seluruh bakteri *Salmonella* *typhi* dapat menyebabkan demam tifoid. Saat kuman masuk, tubuh berupaya memberantas kuman dengan berbagai cara. Misalnya, asam lambung berupaya menghancurkan bakteri dan gerakan lambung berupaya mengeluarkan bakteri. “Jika berhasil, orang tersebut akan terhindar dari demam tifoid,” ungkap Mugiyo.
Lebih Detail tentang Demam Tifoid (Typhus Abdominalis)

Disclaimer : Catatan ini merupakan kumpulan catatan dari Internet, Saya tidak menjamin keabsahannya, gunakan hanya sebagai informasi bagi anda, konsultasikan dengan dokter anda.
Definisi :
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi dengan masa tunas 6-14 hari.
Gejala  dan  Tanda:
  • Demam > 7 hari, terutama pada malam hari, dan tidak spesifik
  • Gangguan saluran pencernaan: nyeri perut, sembelit/diare, muntah
  • Dapat ditemukan: lidah kotor, splenomegali, hepatomegali
  • Gangguan kesadaran : iritabel-delirium, apati sampai semi-koma
  • Bradikardi relatif, Rose-spots, epistaksis (jarang ditemukan)
  • Laboratorium : titer Widal 1/200 atau lebih atau 1/320 pada pemeriksaan ulangan dan klinis.  Diagnosa pasti dengan Titer aglutinin bisa tetap positip setelah beberapa minggu, bulan bahkan tahun, walau penderita sudah sehat. Kadang leukositosis, kadang leukopeni
Penatalaksanaan :
  • Bed rest total (tirah baring absolut) sampai minimal 7 hari bebas panas atau selama 14 hari, lalu mobilisasi secara bertahap -> duduk -> berdiri -> jalan pada 7 hari bebas panas
  • Diet tetap makan nasi, tinggi kalori dan protein (rendah serat) -> lihat Buku Ajar Penyakit Dalam jilid 1, edisi 3 cetakan ke 7, halaman 439, PAPDI, tahun 2004
  • Medikamentosa:
    1. Antipiretik (Parasetamol setiap 4-6 jam)
    2. Roborantia (Becom-C, dll)
    3. Antibiotika:
      • Kloramfenikol, Thiamfenikol : 4×500 mg, jika sampai 7 hari panas tidak turun (obat diganti)
      • Amoksilin/ampisilin : 1 gr/6 jam selama fase demam. Bila demam turun -> 750 mg/6 jam sampai 7 hari bebas panas
      • Kotrimoksasol : 2 X 960 mg Selama 14 hari atau sampai 7 hari bebas panas. Jika terjadi leukopeni (obat diganti)
      • Golongan sefalospurin generasi III (mahal)
      • Golongan quinolon (bila ada MDR
Catatan:
Kortikosterroid: khusus untuk penderita yang sangat toksik (panas tinggi tidak turun-turun, kesadaran menurun dan gelisah/sepsis):
  • Hari ke 1: Kortison 3 X 100 mg im atau Prednison 3 X 10 mg oral
  • Hari ke 2: Kortison 2 X 100 mg im atau Prednison 2 X 10 mg
  • Hari ke 3: Kortison 3 X 50 mg im atau Prednison 3 X 5 mg oral
  • Hari ke 4: Kortison 2 X 50 mg im atau Prednison 2 X 5 mg
  • Hari ke 5: Kortison 1 X 50 mg im atau Prednison 1 X 5 mg oral
Pada  Anak :
  • Klorampenikol : 50-100 mg/kg BB/dibagi dalam 4 dosis sampai 3 bebas panas / minimal 14 hari. Pada bayi < 2 minggu : 25 mg/kg     BB/hari dalam 4 dosis. Bila dalam 4 hari panas tidak turun obat dapat diganti dengan antibiotika lain (lihat di bawah)
  • Kotrimoksasol : 8-20 mg/kg BB/hari dalam 2 dosis sampai 5 hari bebas panas / minimal 10
  • Bila terjadi ikterus dan hepatomegali : selain Kloramfenikol diterapi dengan Ampisilin 100 mg/ kg BB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis
  • Bila dengan upaya-upaya tersebut panas tidak turun juga, rujuk ke RSUD
Perhatian :

  • Jangan mudah memberi golongan quinolon, bila dengan obat lain bisa diatasi (baca ulasan penulis dalam: Booming Cyprofloxacin)
  • Jangan mudah memberi Kloramfenikol bagi kasus demam yang belum pasti Demam Tifoid, mengingat komplikasi Agranulositotis
  • Tidak semua demam dengan leukopeni adalah Demam Tifoid
  • Demam < 7 hari tanpa leukositosis pada umumnya adalah infeksi virus, jangan beri kloramfenikol

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates