Friday, February 15, 2013

SKRIPISI/PROPOSAL SAMPAI BAB IV DAN SEBAGIAN BAB V GAMBARAN KECEMASAN ORANGTUA YANG MEMILIKI ANAK REMAJA DI DESA LEBO KECAMATAN GRINGSING BY. MAHASISWA STIKES NWH YANG PALING GANTENG DEWE JARE PACARE




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

       Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 sebanyak 237 641 326 jiwa.  Jumlah penduduk jawa tengah usia 10-15 tahun sebanyak  2 975 034  jiwa dan usia 15-19 tahun berjumlah 2 712 812 jiwa sedangkan usia 20-24 tahun berjumlah 2 345 814 jiwa (BPS, 2010).
       Jumlah remaja yang begitu besar akan muncul berbagai masalah yang akan di alami. Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa pemberontakan. Pada masa-masa ini, seorang anak yang baru mengalami pubertas seringkali menampilkan beragam gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, serta mengalami banyak masalah, baik di rumah, sekolah, atau di lingkungan pertemanannya.
       Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statement ini sudah dikemukakan pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved. Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988, dalam bkkbn, 2012).
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun masa remaja ( Anaahira, 2012).
Masalah yang menimpa remaja seperti  seperti data dari BKKBN pada tahun ( 2007 ) 42,3% siswi cianjur sudah tidak perawan lagi,  dan pada tahun 2010 menunjukan 51%  remaja puteri JABOTETABEK sudah tidak perawan lagi. Angka statistik tentang deviasi atau penyimpangan perilaku seks pra nikah anak remaja dari tahun ke tahun semakin besar dan semakin membahayakan. Era tahun 1970, penelitian mengenai perilaku seks pra nikah menunjukkan angka 7-9%. Tahun  1980, angka tersebut meningkat menjadi 12-15%. Berikutnya tahun 1990 meningkat lagi menjadi 20%. Di era sekarang ini, Pusat Studi Kriminologi Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta menemukan 26,35% dari 846 peristiwa pernikahan telah melakukan hubungan seksual pra nikah dimana 50% menyebabkan kehamilan. Bukan hanya seks pra nikah saja yang menjadi masalah dalam pergaulan remaja saat ini, penyalah gunaan obat juga menjadi salah satu dari kenakalan remaja saat ini.
Hasil survey BNN menyebutkan bahwa sebanyak 26.500 kasus narkoba berhasil diungkap selama tahun 2011. Jumlah ini meningkat 12,62 persen dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 23.531 kasus. Ironisnya, jumlah pengguna narkoba atau zat aditif yang berbahaya lain dan disalahgunakan untuk kepentingan sesaat paling banyak adalah kelompok usia remaja atau pemuda-pemudi dengan kisaran usia 15-24 tahun.Terdapat sebanyak 1.037.682 pelajar dan mahasiswa di Indonesia diketahui telah mengkonsumsi narkotik dan obat-obatan terlarang lainnya (Jurnal Medan, 2012).
        Selain penyalahgunaan narkoba banyak juga remaja yang mengkonsumsi minuman keras. Remaja yang gemar mengkonsumsi minuman keras atau alcohol terjadi pada penduduk berusia 14 tahun atau lebih tua yang mengkonsumsi alkohol setiap harin menurun antara pada tahun2007 (8,1%) dan 2010 (7,2%). Namun, ada sedikit perubahan dalam proporsi orang minum alkohol pada tingkat yang menempatkan mereka pada risiko bahaya selama hidupnya (20,3% tahun 2007 dan 20,1% pada tahun 2010), atau dari acara minum tunggal setidaknya sekali sebulan (28,7 % pada tahun 2007 dan 28,4% pada tahun 2010) ( Hausehold Survay, 2010).
       Bukan hanya minuman keras atau penyalahgunaan obat terlarang saja yang di lakukan remaja, selain itu juga kekerasan di antara remaja atau pelajar kerap terjadi perkelahian antar pelajar atau remaja, yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar.Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus.Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Berdasarkan data Bimmas Polri Metro Jaya di Jakarta misalnya, pada tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Di zaman yang serba moderen dan canggih ini kejahatan bisa menimpa siapa saja termasuk kejahatan dunia maya. Banyak remaja yang menjadi kejahatan orang yang tidak bertanggung jawab melalui dunia maya atau internet.
           Banyak kasus kejahatan yang berawal dari dunia maya atau internet misal penculikan yang sering kali menimpa anak remaja. Hal ini pastilah membuat orangtua sangat cemas. Komnas Perlindungan Anak sejak januari hingga februari 2010 mendapat laporan sebanyak 36 kasus penculikan anak melalui jejaring sosial atau facebook. Seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di semarang, di tengarai dibawa kabur oleh seorang pria yang di kenalnya lewat facebook (Okezone, 2012).
       Biasanya reaksi pertama orangtua adalah marah karena perbuatan anak yang buruk ini menimbulkan kesan buruk pada orangtuanya. Orangtua  merasa dipermalukan dan harga diri seperti diinjak-injak oleh anak lewat perilaku bermasalahnya. Reaksi berikut adalah orangtua berusaha menutupi masalah anaknya apabila masih memungkinkan. Orangtua akan berusaha menutupi dampak masalah anaknya agar  tidak  menyebar dan  tidak  diketahui oleh banyak orang. Misalya, jika anak kedapatan hamil, mungkin berusaha mengaborsi bayi dalam kandungannya atau mengungsikannya keluar kota untuk sementara. Namun, sebagian masalah tidak dapat disembunyikan. Orangtua  terpaksa harus menghadapinya sebab jika tidak, masalah akan makin mengakar dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah.  Pada akhirnya orangtua bersikap pasrah. Orangtua  tidak lagi peduli dengan pandangan orang dann menerima kondisi keluarga apa adanya. Seharusnya  perhatian pertama yang mesti diberikan orangtua kepada anak itu sendiri. Saat anaknya tengah mengalami masalah dan orangtua harus menolongnya ( Paul, {2012 ).
     Dari data studi pendahuluan di Desa Lebo, Gringsing, Batang pada bulan september 2012 terdapat dua remaja yang putus sekolah karena hamil di luar nikah. Usia remaja yang hamil diluar nikah  berkisar antara 15-18th. Remaja puteri tersebut tinggal dalam satu rumah dengan setatus bersaudara tiri. Berdasarkan data tersebut yang merupakan kenakalan remaja penulis berusaha meneliti 10 orangtua yang mempunyai anak remaja penulis mendapat hasil bahwa 9 dari 10 orang responden atau orangtua yang memiliki anak remaja merasa cemas terhadap pergaulan remaja sekarang ini dan 1 orang responden mengatakan percaya dengan anaknya yang menempuh pendidikan di pesanteren.
     Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “GAMBARAN KECEMASAN ORANGTUA YANG MEMMILIKI ANAK REMAJA”.

B.       Rumusan Masalah
“Bagaimana Tingkat kecemasan Orangtua Yang Mempunyai Anak Remaja?”
C.       Tujuan Penelitian
Untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan orang tua yang memiliki anak remaja.
D.      Manfaat Penelitian
1.    Bagi profesi keperawatan
Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberi masukan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan perencanaan keperawatan yang akan dilakukan tentang masalah kecemasan, sehingga dapat diaplikasikan dalam memberikan asuhan keperawatan.
2.      Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan sekaligus sebagai tambahan referensi ilmu pengetahuan bagi perkembangan ilmu keperawatan yang dapat disosialisasikan dan diaplikasikan dikalangan institusi.
3.      Bagi peneliti yang akan datang
Hasil dari penelitian ini dapat memberikan data awal yang dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain dalam mengetahui tingkat kecemasan orangtua yang memiliki anak remaja.
4.      Bagi Masyarakat
Informasi ini dapat berguna untuk memberi informasi tentang gambaran tingkat kecemasan bagi masyarakat yang bersangkutan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Keluarga dengan Anak Remaja
1.      Definisi Keluarga
            Menurut Departemen Kesehatan RI (1988) dalam setiadi (2010), keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling bergantung.Ali (2010) mengatakan keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dlam satu rumah tangga, yang berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Menurut BKKBN (1999) dalam Sudiharto (2007) keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dam materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras, serasi dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya.
            Dari beberapa sumber diatas dapat di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari dua orang atau lebih yang tinggal dalam satu atap, terikat satu sama lain bisa melalui ikatatan perkawinan, adopsi dan masing-masing anggota keluarga mempuyai peranya tersendiri. Serta mampu memenuhi kebutuhan hidup baik dalam segi materi maupun spiritual hubungan yang selaras satu anggota dengan angota yang lainya.
2.      Bentuk Keluarga
       Menurut Sudiharto (2007), beberapa bentuk keluarga adalah sebagai berikut:
a.       Keluarga Inti ( nuclear family ), adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak- anak baik karena kelahiran (natural) maupun adopsi.
b.      Keluarga asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga tempat asal seseorang dilahirkan.
c.       Keluarga Besar ( extended family ), keluarga inti ditambah keluarga yang lain (karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek, bibi, paman, sepupu termasuk keluarga modern, seperti orang tua tunggal, keluarga tanpa anak, serta keluarga pasangan sejenis (guy/lesbian families).
d.      Keluarga Berantai, keluarga yang terbentuk karena perceraiandan/atau kematian pasangan yang dicintai dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.
e.       Keluarga duda atau janda ( single family ), keluarga yang terjadi karena perceraian dan/atau kematian pasangan yang dicintai.
f.       Keluarga komposit ( composite family), keluarga dari perkawinan poligami dan hidup bersama.
g.      Keluarga kohabitasis ( Cohabitation ), dua orang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan, bisa memiliki anak atau tidak. Di Indonesia bentuk keluarga ini tidak lazim dan bertebtangan budaya timur. Namun, lambat laun, keluarga kohabitasi ini mulai dapat diterima.
h.      Keluarga inses (incest family), seiring dengan masuknya nilai-nilai global dan pengaruh informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk keluarga yang tidak lazim, misalnya anak perempuan menikah dengan ayah kandungnya, ibu menikah dengan anak kandung laki-laki, paman menikah dengan keponakannya, kakak menikah dengan adik dari satu ayah dan satu ibu, dan ayah menikah dengan anak perempuan tirinya. Walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah keluarga inses semakin hari semakin besar. Halini dapat kita cermati melalui pemberitaan dari berbagai media cetak dan elektronik.
i.        Keluarga tradisional dan nontradisional, dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan keluarga nontradisional tidak diikat oleh perkawinan. Contoh keluarga tradisional adalah ayah-ibu dan anak hasil dari perkawinan atau adopsi. Contoh keluarga nontradisional adalah sekelompok orang tinggal di sebuah asrama.







3.      Ciri-ciri Keluarga
Menurut Ali (2010) ciri-ciri keluarga di Indonesia adalah:
a.       Mempunyai ikatan keluarga yang sangat erat yang dilandasi oleh  semangat kegotongroyongan.
b.      Merupakan satu kesatuan utuh yang dijiwai oleh nilai budaya ketimuran yang kental yang mempunyai tanggung jawab besar.
c.       Umumnya dipimpin oleh suami sebagai kepala rumah tangga yang dominan dalam mengambil keputusan walaupun prosesnya melalui musyawarah dan mufakat.
d.      Sedikit berbeda antara yang tinggal di pedesaan dan di perkotaan—keluarga di pedesaan masih bersifat tradisional, sederhana, saling menghormati satu sama lain dan sedikit sulit menerima inovasi baru.

4.      Definisi Keluarga dan Anak Remaja
              Keluarga dengan anak remaja ialah keluarga yang mempunyai anak usia 12-24 tahun ( WHO, 2007, dalam Makhfud, 2009 ). Keluarga merupakat tempat yang penting dimana anak memperoleh dasar untuk membentuk kemampuanya agar kelak menjadi orang yang berhasil di masyarakat.Anak remaja lebih sering menolak sesuatu yang di anggap baik oleh keluarganya.Prilaku mengkritik orangtua dan menyusahkan orangtua. Namun demikian anak remaja juga masih perlu kasih sayang dan keserasian dalam keluarga dirumah dan membutuhkan dukungan emosional oranngtua jika mengalami kekecewaan dalam pergaulan   ( singgih, 2004 ).

a.         Remaja
     Masa remaja adalah priode waktu individu beralih dari fase anak ke fase dewasa (Bobak, 2004).Masa remaja adalah masa yang khusus dan penting, karna merupakan priode pematangan organ reproduksi manusia (Pinem, 2009).
b.         Perkembangan remaja dan ciri-cirinya
Berdasarkan ciri perkembangan menurut Widyastuti (2009)., masa (rentang waktu) remaja ada 3 tahap, yaitu:
1)   Masa remaja awal (10-12 tahun)
a)    Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebayanya.
b)   Tempak dan merasa ingin bebas.
c)    Tempak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai mulai berfikir khayal (abstrak).
2)   Masa remaja tengah (13-15 tahun)
a)    Timbul perasaan cinta yang mendalam.
b)   Kemampuan berfikir abstrak (khayal) makin berkembang.
c)    Berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual.
d)   Tampak ingin mencari identitas diri.
e)    Ada keinginan berkencan atau ketertarikan dengan lawan jenis.





3)   Masa remaja akhir (16-19 tahun)
a)    Menampakan pengungkapan kebebasan diri.
b)   Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.
c)    Memiliki citra (gambaran, keadaan, peran) terhadap dirinya.
d)   Dapat mewujudkan perasaan cinta.
e)    Memiliki kemampuan berfikir khayal atau abstrak.
c.         Tahap perkembangan Keluarga dan Anak Remaja
      Tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja menurut Setiadi {2010) ):
1)      Pengembang terhadap remaja ( memberikan kebebasanyang seimbang  dan bertanggung jawab mengingat remaja adalah orang dewasa muda dan memiliki otonomi ).
2)      Memilihara komunikasi terbuka.
3)      Memilihara hubungan intim pada keluarga.
4)      Mempersiapkan perubahan sytem peran dan peraturan anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota keluarga
d.    Segala Macam Permasalahan Remaja
Kenakalan remaja adalah prilaku menyimpang atau melanggar hukum sehingga mengganggu ketenteraman dan ketenangan di masyarakat. Apapun yang dilakukan remaja, yang di anggap mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, bisa di katagorikan sebagai kenakalan remaja ( Nurul, 2008 ).

Kenalan Remaja menurut Didik Hermanan (2008) di bagi kedalam 4 jenis yaitu:
1)      Kenakalan yang menimbulkan korban fisik terhadap orang lain: perkelahian, pemerkosaan, dan lain-lain.
2)      Kenakalan yang menimbulkan korban materi: pencurian, pencopetan, pemerasan, perusakan, dan lain-lain.
3)      Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak lain: pelacuran, penyalah gunaan obat, dan lain-lain.
4)      Kenakalan yang melawan status: misalan melawan status sebagai pelajar dengan membolos.
e.     Dampak Kenakalan Remaja
Dampak kenakalan remaja pasti akan berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani,akan tumbuh menjadi sosok yang bekepribadian buruk.
1)        Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna.
2)        Akibat dari dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa mengalami gangguankejiwaan. Yang dimaksud gangguan kejiwaan bukan berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan dalam hal sosialisai, merasa sangat sedih, atau malah akan membenci orang-orang sekitarnya.
3)        Dampak kenakalan remaja yang terjadi, tak sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini tentu sangat merugikan, dan biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan remaja tidak akan menyadari tentang beban keluarganya.
4)        Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para remaja yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja yang kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan dia tidak akan memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur perlahan dan tidak sempat memperbaikinya.
5)        Kriminalitas bisa menjadi salah satu dampak kenakalan. Remaja yang terjebak hal-hal negatif bukan tidak mungkin akan memiliki keberanian untuk melakukan tindak kriminal. Mencuri demi uang atau merampok untuk mendapatkan barang berharga(Anaahira, 2012).
Munculnya sikap perlindungan overprotected dari orangtua kepada anaknya karna perasaan khawatir yang terlalu berlebihan disertai keinginan untuk memberikan perlindungan dan perlakuan terbaik bagi anak remajanya, dan beberapa pola asuh yang di terapkan orangtua pada anak remajanya  ( Surbakti, 2009 ).





B.       Kecemasan
       Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian tersebut yang penyebabnya tidak diketahui. Sedangkan rasa takut mempunyai penyebab yang jelas dan dapat dipahami  (Riyadi & Purwanto, 2009).
kecemasan adalah reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang, dan karena itu berlangsung tidak lama. Penting sekali untuk mengigat bahwa kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi (Savitri, 2003).Kecemasan merupakan respon emosi dengan objek yang tidak spesifik yang secara subyektif dialami dan dikomunikasi secara interpersonal terhadap penilaian individu yang subyektif, yang dipengaruhi alam bawah sadar dan tidakdiketahui secara khusus peyebabnya (suliswati, 2005). Kecemasan adalah kebingungan, ketakutan pada suatu yang akan terjadi dengan penyebeb yang tidak jelas serta dihubungkan dengan perasaan yang tidak menentu (Kaplan, 2010). Kecemasan dapat dialami siapa saja, tidak hanya di alami orang yang tinggal negara-negara berkembang tapi di seluruh dunia. Prevaliasi kecemasan terjadi pada usia 9 tahun sampai usia17 tahun sebanyak 13% umur 18-54 tahun sebanyak 16,4% dan umur 55 tahun dan lansia sebanyak 11,4%. Kecemasan dua kali lebih sering dialami oleh perempuan dari pada laki-laki (Fortinash et al., 2003).Kecemasan dapat terjadi pada orang tua yang mempunyai anak remaja. Kecemasan yang di alami orang tua sangatlah wajar karna melihat pergaulan yang semakin bebas, seperti dunia malam remaja,narkoba dan free seks di kalangan remaja yang menyebabkan orang tua sangat kawatir jika anaknya terjerumus di dalamnya. Anak banyak belajar dari lingkuan sekitar melalui penginderaan.Pengeinderaan terjadi melalui pancaindera manusia yakni indera penglihatan, penciuman, pendengaran, raba dan rasa (Soekidjo Notoatmojo, 2003).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan kecemasan adalah respon perasaan khawatir, gelisah,dan takut yang muncul tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya disertai tanda gejala fisiologis dan emosional  pada tubuh. Respons yang timbul ansietas yaitu khawatir, gelisah, tidak tenang dan dapat disertai dengan keluhan fisik.Kondisi dialami secara subjektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal.Ansietas berbeda dengan rasa takut yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya.
Mempunyai anak remaja suatu hal yang tidak mudah bagi orangtua karna pada masa ini terjadi bermacam hal permasalahan pada anak remaja. Kecemasan orangtua yang mempunyai anak remaja akan merasakan khawatir, gelisah dan ketakutan terhadap banyaknya masalah yang dialami oleh anak remajanya.








1.    Faktor Pendukung Kecemasan   
a.     Faktor Predisposisi
Menurut Sujono & Riyadi, (2008) Faktor predisposisi, yaitu faktor-faktor pendorong timbulnya kecemasan yang dibagi menjadi :
1)    Dalam pandangan psikoanalitik yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian id dan super ego. Id mewakili dorongan insting dan implus primitif individu, sedangkan super ego `mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya individu. Ego atau aku, berfungsi mediator antara tuntutan id dan super ego. Menurut teori psikoanalitik ansietas merupakan konflik emosional yang terjadi antara id dan super ego, yang berfungsi memperingatkan ego tentang sesuatu bahaya yang perlu diatasi.
2)   Menurut pandangan interpersonal yang dikemukakan oleh Sullivan ansietas timbul dari perasaan takut dari tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Hal ini juga berhubungan dengan trauma perkembangan seperti perpisahan, kehilangan yang menimbulkan individu tidak berdaya. Seseorang dengan harga diri rendah biasanya sangat mudah mengalami perkembangan ansietas berat.
3)    Menurut pandangan prilaku ansietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Para ahli perilaku menganggap ansietas sebagai suatu dorongan untuk belajar berdasarkan keinginan untuk menghindari rasa sakit. Ahli teori pembelajaran meyakini bahwa individu yang sejak kecil terbiasa dalam kehidupannya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan akan menunjukkan kemungkinan ansietas berat pada kehidupan masa dewasanya. Ahli teori konflik memandang ansietas sebagai pertentangan antara dua kepentingan yang berlawanan. Mereka meyakini adanya hubungan timbale balik antara konflik dan ansietas. Konflik menimbulkan ansietas dan ansietas menimbulkan perasaan tidak berdaya yang pada akhirnya akan meningkatkan konflik yang dirasakan.
4)   Kajian keluarga menunjukan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasanya terjadi dalam suatu keluarga. Teori ini juga tumpang tindih antara gangguan ansietas dengan depresi.
5)   Kajian biologis menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepines. Reseptor ini mungkin membantu mengaturansietas. Penghambat asam aminobutirat-gamaneuroregulator (GABA) juga mempunyai peran penting dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas, sebagaimana halnya dengan endorfin. Selain itu telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai presdisposisi terhadap ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor.
     Faktor pendukung kecemasan orangtua yang memiliki anak remaja termasuk dalam pandangan prilaku ansietas yang merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.orangtua mengalami kecemasan terhadap anak remajanya karena kekhawatiran akan terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap anak remajanya. Orangtua harus banyak belajar tentang anak remaja saat ini.
b.    Faktor Presipitasi
Faktor Presipitasi merupakan faktor pencetus timbulnya kecemasanyang dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu:
1)    Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan terjadi atau menurunkan kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Pada ancaman ini, stresor yang berasal dari sumber ekstenal adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan gangguan fisik (misal; infeksi virus, populasi udara). Sedangkan yang menjadi sumber internalnya adalah kegagalan mekanisme fisiologi tubuh (misal; sistem jantung, sistem imun, pengaturan suhu dan perubahan fisiologis selama kehamilan).
2)    Ancaman terhadap sistem  diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang. Ancaman yang berasal dari sumber eksternal yaitu kehilangan orang yang berarti (meninggal, perceraian, pindah kerja) dan ancaman yang berasal dari sumber internal berupa gangguan hubungan interpersonal dirumah,tempat kerja, atau menerima peran baru. 




2.    Faktor-faktor  yang mempengaruhi kecemasan (Suliswati, 2005):
a.    Usia
     Ada yang berpendapat bahwa faktor usia muda lebih mudahmengalami stres dari pada usia tua, tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya usia muda biasanya mudah mengalami cemas dan stres dikarenakan bertumpuknya masalah yang mungkin sering dialami oleh seseorang pada usia muda. Walau usia sukar ditentukan karena sebagian besar orang akan mengalami kecemasan selama yang dapat mereka ingat.
b.         Jenis kelamin
    Umumnya wanita lebih sering mengalami stres, tetapi umur wanita lebih tinggi dari pria.Di perkirakan jumlah mereka yang mengalami gangguan kecemasan mencapai 5% dari jumlah penduduk yang ada.
c.         Pengalaman masa lalu
    Pengalaman masa lalu individu dalam menghadapi kecemasan dapat mempengaruhi individu ketika menghadapi stressor yang sama karena karena individu memiliki kemampuan beradaptasi atau mekanisme koping yang lebih baik. Pengalamnan orangtua yang pernah mempunyai anak remaja dengan orangtua yang belum pernah punya anak remaja akan beda mekanisme kopingnya, sehingga tingkat kecemasan pun akan berbeda dan dapat menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih ringan.



d.        Tingkat pengetahuan
     Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui : kepandaian (kamus besar bahasa Indonesia, 2005). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior).Orangtua kurang mengetahui kegiatan anak remajanya diluar rumah.Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
e.         Status Pendidikan
    Tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh.orangtua yang berpendidikan tinggi lebih mengetahui cara merawat anak dibandingkan ibu yang berpendidikan dasar. Dari kepentingan keluarga pendidikan itu sendiri sangat diperlukan seseorang agar lebih tanggap dengan adanya masalah kesehatan dan bisa mengambil tindakan secepatnya (Notoatmodjo, 2002).
f.          Status ekonomi (pendapatan)
Pendapatan biasanya berupa uang yang memepengaruhi daya beli seseorang untuk membeli sesuatu.Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kuantitas maupun kualitas kesehatan sehingga ada hubungan yang erat antara pendapatan dengan keadaan kesehatan seseorang.Pendapatan yang meningkat tidak merupakan kondisi yang menunjang bagi kesehatan seseorang menjadi memadai (Notoatmodjo, {2002).

g.         Agama
     Anak yang soleh yang gemar beribadah dan menjalankan perintah agama secara konsisten akan menghilangkan kecemasan dasar pada orangtua. Dengan keimanan dan ketakwaan yang baik maka seorang anak akan memiliki tameng terhadap berbagai keburukanyang biasanya mempengaruhi anak-anak yang imannya atau ketakwaannya  kurang. Orangtua nantinya tinggal mengarahkan anaknya saja agar tidak salah salam memahami suatu ajaran agama (organisasi.org).
3.    Tanda dan Gejala Kecemasan
a.    Respon fisiologis
Respon fisiologis yang mempengaruhi sistem yang ada dalam tubuh manusia menurut Suliswati, (2009) adalah :
1)   Sistem Kardiovaskuler
Palpitasi, Jantung berdebar, Tekanan darah meningkat, Denyut nadimenurun, Rasa mau pingsan.
2)   Sistem respirasi
Napas cepat, Pernapasan dangkal, Rasa tertekan pada dada,    Pembengkakan pada tenggorokan, Rasa tercekik, Terengah-engah.
3)   Sistem Neuromuskular
Peningkatan refleks, Reaksi kejutan, Insomnia, Ketakutan, Gelisah, Wajah tegang, Kelemahan secara umum, Gerakan lambat, Gerakanyang janggal


4)         Sistem gastrointestinal
Kehilangan nafsu makan, Menolak makan, Rasa tidak nyaman pada abdominal, Rasa terbakar pada jantung, Nausea, Diare.
5)    Sistem perkemihan
                 Inkontinensia urine, Sering miksi
6)    Sistem integument
Rasa terbakar, Berkeringat banyak pada telapak tangan, Gatal-gatal, Perasaan panas atau dingin pada kulit, Muka pucat, Berkeringat seluruh tubuh
b.    Respon Perilaku Kognitif
1)         Perilaku
Gelisah, Ketegangan fisik, Tremor, Gugup bicara cepat, Tidak ada koordinasi, Kecenderungan untuk celaka, Menarik diri, Menghindar , Terhambat melakukan aktifitas
2)   Kognitif
Gangguan perhatian, Konsentrasi hilang, Pelupa, Salah tafsir , Menurunnya lapangan persepsi, Kreatifitas dan produktifitas menurun, bingung, rasa khawatir yang berlebihan, kehilangan penilaian objektifitas, takut akan kehilangan kembali, takut berlebihan.




4.      Klasifikasi Tingkatan Kecemasan
Menurut Tarwoto & wartonah, (2006) ada 4 tingkatan kecemasan, yaitu :
a.     Cemas ringan
     Cemas ringan berhubungan dengan keteganagan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dan individu akan berhati-hati dan waspada. Individu terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan  pertumbuhan dan kreativitas. Respons cemas ringan seperti sesekali bernapas pendek, nadi dan tekanan darah naik, gejala ringan pada lambung,muka berkerut dan bibir bergetar, lapangan persepsi meluas, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif, tidak dapat duduk dengan tenang, dan tremor halus pada tangan.
b.    Cemas sedang
      Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap masalah menurun. Individu lebih berfokus pada hal-hal penting saat itu dan mengesampingkan hal lain. Respons cemas sedang seperti sering napas pendek, sering napas pendek, nadi dan tekanan darah naik, mulut kering, anoreksia, gelisah, lapang pandang menyempit, rangsangan luar tidak mampu diterima, bicara banyak dan lebih cepat, susah tidur, dan perasaan tidak enak.
c.    Cemas berat
Pada cemas berat lahan persepsi sangat sempit.Seseorang cenderung hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang penting.Seseorang tidak mampu berpikir berat lagi dan membutuhkan lebih banyak pengaruh/tutunan.Respons kecemasan berat seperti napas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat, berkeringat dan sakit kepala, penglihtan kabur, ketegangan, lapang persepsi sangat sempit, tidak mampu menyelesaikan masalah, blocking, verbalisasi cepat, dan perasaan ancaman meningkat.
d.   Panik
Pada tahap ini lahan persepsi telah terganggu sehingga individu tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa, walaupun telah diberi pengarahan. Respon panik  seperti napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat, hipotensi, lapang persepsi sangat sempit, tidak dapat berpikir logis, agitasi, mengamuk, marah, ketakutan, berteriak-teriak, blocking, kehilangan kendali, dan persepsi kacau.
5.    Rentang Respons Kecemasan
        Menurut Riyadi & Purwanto, (2009), Rentang respon ansietas berfluktuasi antara renspons adaptif dan maladptif seperti terlihat pada gambar dibawah :

Sumber: Riyadi & Purwanto (2009)


 


                                Gambar 1.2 RentangResponscemas





6.    Kerangka Teori


 









Gambar 2.1.Memodifikasi dari Suliswati, 2005,Struat, 2006













BAB III
                        METODE PENELITIAN

A.      Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian merupakan kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmojo, 2005). Berdasarkan tinjauan teori dan kerangka teori di atas, maka dapat dibuat kerangka konsep sebagai berikut:

 Variabel Independent


Gambaran kecemasan orangtua yang memiliki anak remaja
 
 



Gambar 3.1.kerangka Konsep


B.       Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitupenelitian yang memaparkan dan mengambarkan suatu keadaan, kondisi, situasi, peristiwa, kegiatan dan lain-lain, peneliti tidak melakukan pengubahan dan menambah terhadap objek atau wilayah yang diteliti (Arikunto, 2006).Rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan survei cross sectional, yaitu peneliti melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (Alimul, 2011). Artinya tidak semua subjek penelitian harus diobservasi pada hari atau waktu yang sama, akan tetapi baik variabel independen maupun dependen di nilai hanya satu kali saja (Nursalam, 2003).
C.  Populasi dan Sampel
1.    Populasi
   Populasi merupakan keseluruhan subyek yang menjadi sasaran penelitian (Masyhuri & Zainuddin, 2008). Populasi ini seluruh warga di Desa Lebo Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang Yang  Mempunyai Anak Remaja usia 13-20 tahun.Populasi penelitian ini berjumlah 180 orang.
2.    Sampel
    Sampel merupkan bagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan mewakili seluruh populasi. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan  Simple Random Sampling dimana teknik pengambilan sempelnya secara acak sederhana dilakukan secara undian, memilih bilangan dari daftar bilangan secara acak, dsb. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah seluruh orangtua yang memiliki anak remaja di Desa Lebo .
3.    Besar Sempel
     Besar sempel yang dipakai pada penelitian ini dihitung dengan menggunakanrumus sederhana populasi kecil≤10.000 (Notoadjmodjoo, 2002).



    n

Keterangan :
n   =  Besar sampel
N  =  Besar populasi
d   =  Penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan yaitu sebesar 10% atau 0,1.
Maka perhitunganya adalah:
   n
n
n
n
     n =  64






  Adapun sempel yang diambil harus memiliki kriteria sebagai beriku:
a.    Kriteria inklusi
   Kreteria inklusi merupakan kreteria dimana subyek penelitian dapat mewakili dalam sempel penelitian yang mempunyai syarat-syaratmenjadi sampel (Alimul, 2002). Kreteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1)        Orangtua yang memiliki anak remaja usia 13-20 tahun
2)        Anak remajanya masih menempuh pendidikan formal
3)        Bersedia menjadi responden
b.         Kriteria eksklusi
     Kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subyek penelitian tidak dapat mewakili sempel karna tidak memenuhi syarat sebagai sempel penelitian, seperti :
1)      Hubungan orangtua dan anak  bukan merupakan keluarga inti
2)      Anak remaja tersebut putus sekolah
3)      Tidak bersedia menjadi responden
D.      Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di di Desa Lebo Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang  pada tanggal 16 januari 2012 sampai 23 januari 2013





E.  Definisi Operasional, Variabel Penelitian dan skala Pengukuran
Tabel 3.2 Definisi Operasional, Variabel Penelitian dan Skala Pengukuran  :
Variabel
Definisi Operasional
Alat ukur
Kategori
Skala Ukur
Tingkat kecemasan orangtua yang memiliki anak remaja


Kecemasan orangtua yang memiliki anak remaja adalah kecemasan atau perasaan khawatir orangtua yang takut anak remajanya menghalami hal buruk

Menggunakan kuesioner dengan memakai skala HRS-A, terdiri dari 14 pertanyaan Nilai
-  0 : Tidak ada gejala (keluhan)
-   1 : Gejala ringan
-   2 : Gejala sedang
-   3 : Gejala berat
-   4 : (panik)
1.    Skor <14    = Tidak ada kecemasan
2.    Skor 14-20 = Kecemasan ringan
3.    Skor 21-27 = Kecemasan sedang
4.    Skor 28-41 = Kecemasan berat
5.    Skor 42-56 = panik

Ordinal







Jenis kelamin
Identitas seseorang yang membedakan antara laki-laki atau perempuan
Menggunakan kuesioner
Kategori :
Laki-laki
Perempuan
Nominal

Penghasilan
Sesuatu hasil yang didapatkan dari usaha, dapat berupa benda ataupun yang lain.
Menggunakan kuesioner
Kategori :
-  Cukup
-  Kurang
-  lebih
Ordinal





F.   Alat Penelitian Dan Cara Penelitian
1.             Alat Penalitian
Peroses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner  yaitu  pertanyaan yang  diharapkan akan dijawab oleh responden. Kuesioner  identitias responden terdiri dari usia, jenis kelamin, penghasilan, untuk mengukur kecemasan menggunakan checlist dan wawan cara yang sudah dimodifikasi dengan memakai skala hamilton, terdiri dari 14 pertanyaan yang sudah baku.
2.    Cara Pengumpulan Data
a.       Data Primer
Data primer yang disebut juga data tangan pertama.Data primer diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan menggunakan alat pengukur atau alat pengambil data, langsung pada subyek sebagai sumber informasiyang dicari (Sugiyono, 2008).Pengumpulan data primer dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dilakukan dengan wawancara. Data primer dalam penelitian ini adalah orangtua yang memiliki anak remaja
b.      Data Sekunder
Data sekunder disebut juga data tangan kedua.Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitian (Sugiyono, 2008).Data sekunderdalam penelitian ini didapat dari wawancara dengan sodaranya.


5.      Urutan Pengumlan Data
Cara pengumpulan data dalam penelitian ini melalui beberapa tahapan   antara lain:
1)             Mengajukan surat permohonan ijin melakukan penelitian kepada istitusi STIKES Kendal.
2)             Setelah  mendapat  ijin dari istitusi, peneliti mengajukan  ijin penelitian kepada Badan Kesatuan Bangsa dan perlindungan Masyarakat ( KESBANGLINMAS).
3)             Setelah mendapat ijin dari KESBANGLINMAS, peneliti memberikan surat rekomendasi dari KESBANGLINMAS tersebut ke Badan Perencanaan dan pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Batang.
4)             Setelah mendapat ijin dari BAPPEDA, peneliti mengajukan surat rekomendasi dari BAPPEDA ke kelurahan Desa Lebo, Gringsing.
5)             Setelah mendapat ijin dari aparat kelurahan desa setempat  peneliti  melakukan penelitian kepada anggota keluarga yang mempunyai anak remaja.
6)             Sebelum pengisian kuesioner, peneliti memberikan informasi  singgkat tentang  tujuan,  manfaat dan peran serta responden dalam penelitian ini. Bagi keluarga yang bersedia menjadi responden diminta untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi responden.
7)             Peneliti meminta responden yang setuju dalam penelitian ini untuk mengisi seluruh pertnyaan-pertanyaan  yang tersedia dalam kuesioner.
8)             Setelah peneliti melakuakan pengumpulan data dan  kuesioner  tersebut diisi oleh responden secara langsung.
9)             Kemudian data tersebut diolah dan dilakukan analisa data.
G.   Teknik  Pengolahan  Analisa Data
1. Teknik Pengolahan Data
Pengolahan  data dilakukan  terhadap data yang diperoleh dari pertanyaan  kuesioner dengan jalan (Notoatnodjo, 2002):
a.    Editing
Memeriksa data yang berasal dari kuesioner untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah cukup dan menghindari data yang salah.
b.         Coding
Data yang telah terkumpul dan telah di edit diberi kode atau tanda agar mudah dalam pengolahan dan peyajianya.
c.    Transfering
Memindahkan  data  dalam  bentuk  kode  kedalam  master tabel. Denagn memilih data dalam bentuk tabel agar mudah dibaca dan dipahami



.
d.    Tabulading
Merupakan proses dari data menth (raw data) dilakukan penataan data (array data) kemudian menysun dalam bentuk tabel disteribusi frekwensi atau tabel silang.
e.          Scoring (memberi skor)
          Melakukan pemberian skor pada item.
2.    Analisa Data
Analisa data menggunakan alat bantu komputer melalui program SPSS. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat yaitu untuk mendiskripsikan masing-masing variable (Notoatmojo, 2005). Analisa ini hanya menghasilkan distribusi dan presentase dari  tiap variabel  yang  meliputi tingkat kecemasan pada orangtua yang mempunyai anak remaja.

                   Rumus presentase yang digunakan adalah :


P =×100

 
 
Keterangan :
P    : persentase
f    : skore diperoleh
n    : skore maksimal





H.    Etika Penelitian
       Dalam  melakukan penelitian perlu mendapat adanya rekomendasi dari institusi atau lembaga tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan baru melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika  (Alimul, 2011) sebagai berikut :
1.         Informed consent
       Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan  setulembar  persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan  informed consen  dalah  agar  subjek  mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika subjek bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan.Jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien.
2.         Anonimity  (tanpa nama)
       Peneliti  tidak  mencantumkan  nama  responden  pada  lembar alat ukur dan hanya menulis kode pada  lembar  pengumpulan  data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
3.         Confidentiality  (kerahasiaan)
       Peneliti  memberikan  jaminan  kerahasiaan  hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti
I.         Jadwal Penelitian
Terlampir

BAB IV
HASIL PENELITIAN

       Penelitian dilakukan pada bulan februari – maret 2013 dengan jumlah 64 responden orangtua yang memiliki anak remaja. Pada bab ini akan menguraikan tentang hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa Lebo Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang yang meliputi gambaran wilayah penelitian, tingkat kecemasan orangtua yang memiliki anak remaja.
A.   Gambaran Wilayah Peneliti
       Desa Lebo terletak di kecamatan gringsing Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah, Desa Lebo luasnya 168.98 Ha. Mayoritas penduduk adalah suku jawa, dengan jumlah penduduk 5.282 jiwa yang perempuan sebanyak 2.621 jiwa laki-laki 2.661 jiwa, jumlah kepala keluarga 1.451 kepala keluarga, batas wilayah Desa Lebo sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Desa Krengseng, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kuthosari, sebelah barat berbatasan dengan Desa Pelelen dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Gringsing.






B.       Hasil Uji Univariat
1.    Gambaran Kecemasan Orangtua yang Memiliki Anak Remaja
Tabel 4.1 Distribusi Gambaran Kecemasan Orangtua yang Mempunyai Anak Remaja pada bulan februari 2013


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
      
 Valid  Kecemasan Sedang
17
26.6
26.6
26.6
    Kecemasan Berat 
47
73.4
73.4
100.0
                 Total
64
100.0
100.0


Pada tabel 4.1 menunjukan bahwa variabel kecemasan orangtua yang memiliki anak remaja menunjukan 73.4% orangtua mengalami cemas berat dan 26.6% orangtua mengalami cemas sedanng.
2.    Penghasilan responden orangtua yang memiliki anak remaja
Tabel 4.2 distribusi gambaran pendapatn orangtua yang memiliki anak remaja
Penghasilan



Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
    
valid       Kurang
15
23.4
23.4
23.4
               Cukup
49
76.6
76.6
100.0
                Total
64
100.0
100.0









Pada tabel 4.2 menunjukan bahwa responden orangtua yang memiliki anak remaja berpenghasilan cukup sebanyak 49 responden dari 64 responden atau 76.6% dan responden yang berpenghasilan kurang 15 responden dari 64 responden atau 23.4%.
3.      Jenis kelamin responden orangtua yang memiliki anak remaja
Tabel 4.3 distribusi kelamin responden orangtua yang memiliki anakremaj
Jenis_Kelamin



Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent

 valid   Lakilaki
31
48.4
48.4
48.4
     Perempuan
33
51.6
51.6
100.0
        Total
64
100.0
100.0









Pada tabel 4.3 menunjukan terdapat 31 responden berjenis kelamin laki-laki dari jumlah keseluuhan responden sebanyak 64 responden atau 48.4% dan 33 responden berjenis kelamin perempuan dari jumlah seluruh responden sebanyak 64 responden atu 51.6% responden.









BAB V
PEMBAHASAN

A.      Gambaran Kecemasan Orangtua yang Memiliki Anak Remaja di Desa Kecamatan Lebo Gringsing
       Hasil penelitian menunjukanbahwa rata-rata responden mengalami cemas berat. Dari 14 item pertanyaan tentang kecemasan terhadap anak remaja, diketahui bahwa sebagian besar responden cemas berat terhadap kenakalan anak remaja sekarang ini. Penghasilan masyarakat yang menjadi responden rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari namun responden mengalami cemas berat hal ini dimungkinkan karna ada beberapa kasus pernikahan dini remaja di desa tersebut saat di lakukan penelitian.
        Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata responden mengalami kecemasan berat









0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates