Kasus I
Seorang wanita, berkeluarga dengan 2
anak dan suami bekerja sebagai wiraswasta. Hampir setiap hari wanita
ini mengalami kecemasan dan ketakutan. Selalu muncul bayangan-bayangan
negatif yang menghantui sehingga bangun tidur pun wanita itu sudah mulai
cemas. Bila muncul menghebat, dia tidak mampu bekerja, bahkan
mendampingi anak-anak belajar pun kacau. Kecemasan itu disertai keringat
dingin, jantung berdebar keras dan tangan gemetaran. Setahun lalu,
usaha suami wanita tersebut bangkrut dan saat ini sedang mencoba bangkit
lagi. (Mereka Bilang Aku Sakit Jiwa)
Kasus II
Seorang eksekutif bank khawatir
terlibat kasus penggelapan uang seperti kasus yang terjadi di Bank lain.
Dia selalu dihinggapi perasaan was-was, gelisah dan khawatir. Suatu
saat dia merasa mual, dadanya sesak dan berkeringat dingin. Pandangannya
gelap lalu tiba-tiba jatuh pingsan. Bankir tersebut sedang menghadapi
persoalan berat. Awalnya diduga dia terkena serangan jantung, namun
setelah diperiksa jantungnya tidak mengalami masalah. Setelah menemui
psikiater, barulah diketahui dia mengalami kecemasan hebat. (Tempo Online)
Cemas merupakan sebuah emosi dan
pengalaman subjektif dari seseorang. Rasa cemas merupakan reaksi normal
terhadap situasi yang dirasa mengancam individu dan setiap orang mungkin
dapat mengalaminya.
Namun pada situasi tertentu, seseorang
bisa menderita kecemasan yang luar biasa yang membuatnya terus menerus
merasa tidak nyaman, khawatir, gelisah dan merasa terancam tanpa
penyebab yang jelas dan tidak spesifik. Kondisi kecemasan disertai
dengan gangguan emosi ini disebut sebagai gangguan kecemasan atau
gangguan ansietas (anxiety disorder) seperti terlihat pada dua kasus di
atas.
Kasus ansietas mempunyai gejala dan
persoalan yang unik serta pribadi dan setiap kasus akan menunjukkan
perbedaan antar pasien yang satu dengan yang lainnya. Gejala yang muncul
juga tergantung tipe serta tingkat kecemasan. Tapi pada umumnya akan
mempengaruhi emosional dan juga fisik.
Keluhan dan gejala umum berkaitan dengan
ansietas antara lain merasa takut, tegang, cemas, konsentrasi
berkurang, merasa diri dalam khayalan, tidak berdaya, mudah terkejut,
mengira hal yang paling buruk akan terjadi dan sering memikirkan bahaya
serta cenderung mengurangi aktivitas. Sedangkan gejala fisik berupa
denyut nadi cepat, jantung berdebar, keringat dingin, sakit kepala, otot
tegang atau kaku, sakit perut atau sembelit dan sesak nafas.
Tantangan global yang semakin berat
terutama di kota-kota besar, desakan ekonomi maupun masalah sosial dapat
menjadi faktor pemicu yang membuat seseorang yang tidak memiliki
ketahanan fisik dan mental yang kuat mengalami kecemasan, stres dan
bahkan sampai depresi. Keadaan cemas biasanya juga disertai dan diikuti
dengan gejala depresi. Untuk diagnosis dibutuhkan penentuan kriteria
yang tepat antara berat ringannya gejala, penyebab serta kelangsungan
dari gejala apakah sementara atau menetap. Gejala depresi antara lain
perasaan sedih, tidak bahagia, putus asa, kehilangan nafsu makan,
kehilangan konsentrasi serta gagasan bunuh diri.
Pada tingkat yang berat, kehidupan
individu yang memiliki gangguan kecemasan sudah tidak dapat terkontrol
dan mengganggu aktivitas kesehariannya. Individu sangat terganggu dan
tersiksa setiap hari sehingga terapi psikologis dan obat-obat anti cemas
diperlukan untuk menolongnya.
Psikoterapi
Pengobatan psikoterapi yang umum digunakan pada gangguan kecemasan adalah CBT (cognitive-behavioral therapy/terapi
perilaku-kognitif). Dalam CBT, seorang ahli kesehatan-mental bekerja
sama dengan penderita gangguan kecemasan untuk menentukan apa yang
menjadi penyebab rasa takut pasien yang akhirnya memicu kecemasan.
Keduanya juga berupaya keras untuk mengidentifikasi pola-pola dari rasa
takut yang dialami pasien. Melalui kognisi, pasien kemudian diajarkan
cara untuk mengenali situasi pemicu kecemasan, dan bagaimana cara
mengatasinya ketika seseorang mengalami keadaan seperti itu.
Terapi Farmakologi
Pemberian obat untuk mengatasi ansietas
sangat bermanfaat khususnya bagi penderita yang terganggu aktivitasnya
akibat ansietas yang dialami. Salah satunya adalah Opizolam®. Opizolam® mengandung bahan aktif Alprazolam yang
merupakan salah satu dari golongan obat Benzodiazepines atau disebut
juga Minor Transquillizer dimana golongan ini merupakan obat yang paling
umum digunakan sebagai anti ansietas.
Alprazolam (Opizolam®)
merupakan obat anti ansietas dan anti panik yang efektif digunakan
untuk mengurangi rangsangan abnormal pada otak, menghambat
neurotransmitter asam gama-aminobutirat (GABA) dalam otak sehingga
menyebabkan efek penenang. Alprazolam (Opizolam®)
diabsorbsi dengan baik di dalam saluran pencernaan dan bekerja cepat
dalam mengatasi gejala ansietas pada minggu pertama pemakaian.
Alprazolam (Opizolam®)
memiliki waktu paruh yang pendek yaitu 12 - 15 jam dan efek sedasi
(mengantuk) lebih pendek dibanding Benzodiazepines lainnya, sehingga
tidak akan terlalu mengganggu aktivitas. Alprazolam juga aman digunakan bagi penderita gangguan fungsi hati dan ginjal dengan pemakaian di bawah pengawasan dokter.
Meskipun demikian, Alprazolam (Opizolam®)
baik digunakan untuk terapi jangka pendek. Penggunaan jangka panjang
berisiko menimbulkan efek kecanduan seperti halnya obat golongan
Benzodiazepines lain serta kemungkinan adanya efek samping. Karena itu,
obat ini diberikan hanya dengan resep dan pengawasan dokter.
Sumber :
http://assets.cambridge.org/97805210/11693/excerpt/9780521011693_excerpt.pdf
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6133268
Wicaksana, Inu. Mereka Bilang Aku Sakit Jiwa. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2008.
Sweetman, Sean C. Martindale: The Complete Drug Reference 36th Edition. London : Pharmaceutical Press. 2009.
Townsend, Mary C. Pedoman Obat dalam Keperawatan Psikiatri Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2004.
dan berbagai sumber lainnya

0 comments:
Post a Comment