Thursday, December 20, 2012

Mau Demo Ahok, Mahasiswa Kena Batunya!



Makanya, mulai sekarang, kalau mau unjuk rasa, protes orang lain (pejabat) itu harus punya data dulu yang cukup, pikir dulu baru bicara. Bukan sebaliknya, bicara dulu baru pikir Kalau bicara dulu baru pikir, memang tidak perlu data, tidak perlu menguasai permasalahan tentang yang mau diprotes itu, pokoknya asal protes supaya kelihatan “pahlawan pro rakyat kecil.”

Biasanya, pejabat yang diprotes pun bersikap sama. Supaya kelihatan bijaksana di mata rakyatnya, dia akan menjawab normatif: “Baiklah, aspirasi adik-adik mahasiswa akan kami perhatikan …”

Namun tidak, kalau pejabat itu orang seperti Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahok. Sosok berkarakteristi

­­­k ceplas-ceplos, terbuka apa adanya, menguasai permasalahan dan data, dan sungguh-sungguh­­­ bekerja untuk kepentingan rakyat. Bukan tipe pejabat yang selalu cari selamat dan berlindung di zona nyaman.

Kejadian menarik itu terjadi pada Selasa, 18 Desember 2012 siang, di Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, dan berhasil diliput oleh detik.com.

Ketika Wagub Ahok sedang sibuk meladeni pertanyaan-pert­­­anyaan dari para wartawan, tiba-tiba muncul empat orang mahasiswa berjaket almamater Universitas Bung Karno menyerobot kerumunan wartawan. Dan, dengan suara lantang langsung menyampaikan protesnya kepada Wagub Ahok.

Yang diprotes adalah soal maraknya minimarket – minimarket yang membuat pasar-pasar tradisional semakin terdesak.

“Pak, begini, sekarang, semakin terpuruk pasar tradisional. Kita ini mau bangun pasar tradisional. Sekarang, kenyataannya banyak minimarket yang menjamur,” kata salah satu dari empat mahasiwa itu

Mula-mula Ahok diam mendengar dengan saksama aspirasi mahasiswa itu. Tetapi, ketika si mahasiwa menyinggung soal menjamurnya minimarket itu dengan menagih “janji Wagub” untuk mengedepankan pembangunan pasar-pasar tradidional, sumbu pendek Ahok langsung tersulut.

“Kami sudah melakukan unjuk rasa di 7-Eleven pusat di Matraman. Kami minta bertemu, tetapi mereka menolak. Padahal 7-Eleven seharusnya menyediakan makanan siap saji, tetapi malah menjadi minimarket sesuai Peraturan Presiden Nomor 22. Kami menuntut Wagub, mana janji anda, Pak!” ujar si mahasiwa dengan nada tinggi.

Mendengar bagian terakhir ucapan si mahasiwa, Ahok pun naik pitam, dan berbalik menjawab si mahasiwa dengan suara yang lebih keras, tegas, dan lantang, sambil menunjuk-nunjuk­­­ mahasiswa itu.

Karena dia menilai mahasiwa itu tidak patut mengatakan “menuntut Wagub, mana janji anda!” Mana janji Wagub. Seolah-olah Pemprov yang sekarang inilah yang bertanggungjawa­­­b atas keluarnya semua perizinan minimarket, termasuk dugaan penyimpangan perizinan oleh 7-Eleven itu.

Padahal, mereka, Jokowi-Ahok baru menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta selama dua bulan. Semua izin minimarket yang memang semakin menjamur di wilayah DKI itu bukan mereka yang keluarkan, tetapi oleh Pemprov sebelumnya. Justru Jokowi-Ahok saat ini sedang mengkaji semua izin tersebut, mana yang bisa dipertahankan, mana yang bisa dicabut/­­­dibatalkan. Sementara itu juga, Jokowi-Ahok sedang giat-giatnya merealisasikan rencana pembangunan sekitar 1.500 pasar tradisional baru, yang bersih dan nyaman di wilayah DKI. Ini, kok, tiba-tiba, ada mahasiswa yang nyelonong begitu saja, melakukan protes dengan suara keras menuntut, “mana janji anda!”

Ahok menjelaskan dengan nada tinggi bahwa semua perizinan itu harus dikaji terlebih dulu, tidak bisa asal dicabut, karena bisa-bisa Pemprov DKI malah kena tuntut di PTUN. Kalau kalah di PTUN, harus keluar duit lagi. Bobol itu APBD. Itu dari uang rakyat lagi, yang dipakai untuk membayar.

“ … Ya, semuanya itu ada kajiannya, nggak kayak mahasiswa langsung main berantem saja. Kalau berantem aku lebih jagoan, … Makanya, saya bilang, anda jangan teriak-teriak. Tenang saja! Kami ini baru dua bulan, dan kami belum keluarkan izin satu pun. Kalau kami sudah keluarkan izin, anda boleh maki-maki kami, mana janjinya.”

“Ini saya agak marah karena anda bilang, ‘mana janjinya.’ Kami baru dua bulan, Bung! Jadi, anda jangan pakai ‘mana janji anda’ tadi itu. Kalau anda tidak singgung itu, saya tidak marah.”

“Jangan gunakan kalimat ‘mana janji anda.’ Saya tidak suka kalimat ‘mana janji anda,” tahu nggak?!” Lantang Ahok, sambil memasuki mobil dinasnya. Membiarkan mahasiswa itu bengong.

Rasanya, baru kali ini, ada mahasiswa yang biasanya bersuara lantang, mendadak surut ketika berbalik diberi pelajaran, supaya tidak asal buka mulut. Memproteskan suatu hal yang persoalan yang substansi masalahnya mereka tidak kuasai. Sehingga bukan saja tidak nyambung, tetapi juga salah sasaran.

Apakah mahasiswa akan tersinggung dengan kalimat Ahok: “ … nggak kayak mahasiswa langsung main berantem saja…..” Saya pikir, kalau mahasiwa itu mau berpikir, mereka tidak perlu tersinggung apalagi sampai marah kepada Ahok. Sebab, bukankah memang selama itu fenomenanya begitu? Banyak kali unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa, tetapi substansi persoalan yang didemo itu justru tidak mereka kuasai.

Apalagi seperti, maaf, mahasiswa sekarang (mayoritas), yang selama ini terkenal, kalau unjuk rasa itu nyaris selalu anarkis dan destruktif. Katanya, berjuang untuk rakyat, malah mengganggu aktifitas publik, memblokir jalan, membajak mobil/truk, merusak dan membakar fasilitas umum, memaksa kehendak, membuat warga malah ketakutan. Seperti tempo hari demo rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Entah apa hubungannya yang mereka pikirkan, mereka memasuki resto McDonald’s dan mengacak-acak ruangandi dalamnya.

Semoga saja peristiwa Ahok dengan mahasiwa dari UBK ini bisa dijadikan pembelajaran oleh mahasiwa aktivis. Bahwa sebelum melakukan unjuk rasa terhadap suatu pokok persoalan tertentu, hendaknya terlebih dulu masalahnya dipelajari, dikaji, disiskusikan. Supaya unjuk rasanya itu berkualitas. Benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat banyak. Bukan malah sebaliknya, menimbulkan antipati dan cemohan.

Selama ini, seolah-olah sudah menjadi tren baku, harga mati, bagi mahasiswa, bahwa apa-apa, sedikit-sedikit­­­ harus diselesaikan dengan demo, unjuk rasa, anarkis, dan sebagainya. Padahal, kalau benar-benar mereka mau membantu Pemprov DKI, membantu pemerintah, masih banyak sekali caranya. Misalnya, tentang kebersihan dan banjir di Ibukota. Bisa dilakukan dengan turun langsung ke pemukiman-pemuk­­­iman penduduk yang berada di sepanjang kali. Berilah penerangan, edukasi, sosialisasi untuk mereka bisa terbiasa hidup dengan tidak membuang sampah sembarangan. Terutama sekali di kali-kali itu.

Diskusi di kampus, bikin kajian tentang pokok-pokok masalah paling penting di Ibukota, apa saran-saran solusinya, bagaimana kalau mahasiswa diajak kerjasama oleh Pemprov DKI. Bahan-bahan diskusi dan kajian ini, dijadikan bahan untuk dibicarakan di Pemprov DKI. Minta waktu kepada Gubernur dan/atau Wagub untuk membuka forum khusus untuk itu di Balaikota atau di kampus, dan sebagainya

0 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates